Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Monday, 28 March 2016

Surah An Nas

Al-Qur‘an bagi umat Islam mempunyai arti sangat penting sebagai kitab suci dan pedoman dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Sebagai kitab suci dan pedoman Al-Qur‘an perlu dipahami secara baik agar dapat dihayati dan diamalkan ajarannya. Di sinilah peranan pembelajaran membaca dan menghapal yang sebenarnya adalah menjelaskan makna Al-Qur‘an baik dari segi urutannya, kisahnya, sebab turunnya dengan mengemukakan lafal yang dapat menunjukkan pada makna secara terang‖.Berikut ini penulis akan membahas tentang cara membaca dan melafalkan  surah An-naas dengan benar dan fasih.
a) kapan an-naas diturunkan ?

b) Mengetahui arti surah An-naas ?

A.    Melafalkan surah an-nas dengan benar dan fasih
a.       Tujuan
Agar siswa-siswi dapat melafalkan surah an-nas dengan baik, benar dan fasih dalam membaca surah an-nas.
b.      materi
Surah an-nas diturunkan di ota mekkah
Surah an-nas diturunkan setelah surah al-falaq
Surah an-nas ada 6 ayat
Dalam surah an-nas  Allah memerintahkan manusia agar berlindung kepada Allah dari segala kejahatan yang dilakukan jin dan manusia. Allah maha kuasa dan maha perkasa karena itulah kita hanya boleh memohon perlindungan kepada Allah , kita tidak boleh meminta kepada yang lain selain Allah bagaimana dengan kamu,  kepada  siapakah kamu memohon perlindungan bila kamu sedang takut .
Bacalah surah an-nas berikut ini

Bismillahir rahmanir rahim

1
Qul a’uuzu birabbin nas

2
Malikin nas

3
Ilaahin nas

4
Min syarril waswasil khannas

5
Allazii yuwaswisu fii sudurin nas

6
Minal jinnati wan nas




B.     menghafalkan surah an-nas secara benar dan fasih
annisa sudah menghafal surah an-nas
annisa membaca setiap hari ketika sholat asar
annisa selalu membaca surah an-nas sebelum tidur


Rangkuman
·         an-nas artinya manusia






















5
Tes Mandiri
I . berilah tanda silang (x) pada huruf a b dan c untuk jawaban yang paling benar

1.      qul a’uzu.....
a.       khannas                 b. Birabbin nas                        c. Sudurin nas
2.      surah an-nas terdiri dari......
a.       6 ayat                    b. 7 ayat                                  c. 5 ayat
3.      Malikin nas artinya..........
a.       Raja manusia         b. Hewan                                 c. Manusia
4.      Surah an-nas diturunkan di kota.........
a.       Mekah                   b. Madinah                              c. Irak
II. Isilah titik titik di bawah ini
1.      Surah an-nas ditunkan setelah surah ..............
2.      Ilahi lanjutannya ialah...........
3.      An-nas artinya............
4.      Minal jinnati lanjutannya ialah........
5.      Surah an-nas baik dibaca ketika akan.............

C.     Penutup

·         surah an-nas diturunkan dikota mekah
·         surah an-nas diturunkan setelah surah al-falaq
·         surah an-nas ad 6 ayat
·         an-nas artinya manusia
·         surah an-nas baik dibaca ketika akan tidur
·         surah an-nas sunah dibaca pada waktu sholat setelah surah al-fatihah.



6
Daftar pustaka

Tim bina karya guru, bina balajar al-qur’an dan hadits, PT. Gelora Aksara  Pratama, jakarta, 2009.


























7
Kunci Jawaban
I . Berilah tanda silang (x) pada huruf ab dan c yang paling benar
1.      b
2.      a
3.      a
4.      a
II. Isilah titik-titik
1.      surah al-falaq
2.      ilahin naas
3.      manusia
4.      wan naas
5.      sholat atau waktu tidur



















8

Monday, 7 March 2016

Shalat Khusyu

Pengalaman saya ketika SD tidak terlalu ingat entah kelas berapa saya belajar Agama itulah nama pelajaran saya etika SD dan saya di ajarkan tentang tata cara wudhu, sholat. Tepi yang dipraktikkan hanya sholat , gurunyapun mencontohkan dan sayapun disuruh mempraktekkannya dengan gugupnya saya melangkah kedepan dan gemeteran sampai saya selesai mempraktekkannya. Dan gurunyapun menjelaskan tata cara sholat yang benar.
Selama saya mempelajari fiqih saya mengalami kesulitan tentang sholat yang benar dan kekhosuannya dalam sholat, pernah saya bertanya entah dengan siapa saya udah lupa, diapun menjawab cara-cara sholat yang benar kita harus tau dulu rukun sholat kalau kita udah tau baru melaksakan ke 13 rukun sholat dengan benar dengan panduan melihat buku atau dipraktkkan. Kalau kekhosuan sholat ada yang mengatakan dengan pejamkan mata teru bacalah surah al-fatihah sebanyak 3 kali apa kah itu benar.
Cara dan Kiat Mudah Sholat Khusyu
Dalam shalat, kita dituntut untuk mendirikannya dengan khusyu’. Sebab dengan khusyu dalam shalat, amal ibadah kita akan diterima oleh Allah SWT, terhapus dosa-dosa kita, dan segala perilaku dan ucapan kita terjaga dari kemungkaran dan kefasikan.Khusyu' juga menjadi bukti keikhlasan. Karena hanya mereka yang ikhlas ibadah karena Allah dan sholat karenaNya yang dapat melakukan khusyu' secara sempurna. Tanpa keikhlasan, maka seseorang hanya melakukan kekhusyu'an palsu atau yang sering disebut kekhusyu'an dusta.
Baca artikel sebelumnya tentang Nikmatnyashalat khusyu’Lalu bagaimana caranya agar mudah khusyu dalam shalat?
Pertama: Menghadirkan Hati.
Menghadirkan hati maksudnya adalah disaat kita sedang sholat maka saat itu sedang bermunajat, sedang berdiri berhadapan langsung dengan Sang Maha Kuasa, berdialog tanpa batas apapun. Maka dalam keadaan seperti itu yakinlah bahwa Allah sedang melihat, memperhatikan dan mengawasi gerak-gerik sholat kita. Benarkah sholat kita, dengan bacaan yang benar atau penuh dengan kesalahan dan lain sebagainya.Maka alangkah bodohnya kita, jika kita sedang berhadapan langsung seperti itu, kita tidak merasa takut, atau bergetar dengan keberadaanNya dihadapan kita.
Kedua: Anggap saat itu adalah sholat yang terakhir.
Agar semakin khusyu’ anggaplah bahwa sholat tersebut sholat yang terakhir kali kita lakukan, karena bisa jadi usai shalat Allah mencabut nyawa kita. atau bayangkan, disaat kita sedang mengambil wudhu tiba-tiba datang malaikat maut menghampiri kita dan mengabarkan kita, bahwa usai sholat nanti dia akan mencabut nyawa kita. Subhanallah… bagaimanaka shalat kita saat itu? Shalat dengan penuh kekhusyuan atau shalat dengan main-main? Tentu kita akan sholat dengan sekhusyu’-khusyu’nya.
Ketiga: Tuma’ninah dan tidak tergesa-gesa dalam shalat.
Tuma’ninah atau keadaan tenang dan juga tidak tergesa-gesa juga merupakan cara agar shalat kita khusyu’. Sebab dengan ketenangan kita akan bisa focus dengan bacaan dan juga gerakan dalam shalat. Oleh karena itu, sebelum kita bertakbir memulai shalat, lebih dulu kita tinggalkan segala perkara duniawi, bisa jadi disaat kita sedang shalat, namun kita tergesar-gesa karena memikirkan masalah dunia (masakan, makanan, hp facebook dll) yang bisa merusak kekhusyukan kita dalam shalat.
Keempat: Tadabbur ayat-ayat  dan dzikir-dzikir yang dibaca dalam shalat
Cara keempat ini sangat penting untuk kita latih dan diterapkan saat shalat. Karena dengan mentadabburi ayat dan dzikir yang kita baca, maka kita akan semakin mudah untuk menggapai kekhusyuan dalam shalat. Banyak sekali orang yang hafal bacaan sholat, namun sangat sedikit sekali yang faham dan mengerti bacaan tersebut.

Silahkan menghafal bacaan shalat, tapi lebih baiknya lagi kita mampu meresapi maknanya. Sehingga pemahaman makna akan menambah ketenangan jiwa dan akan memberi dampak baik disaat sedang shalat atau disaat kita membaca surat lainnya dalam al Quran.
Kelima: Tartil dan memperbagus suara dalam membaca Al Quran.
Allah SWT memerintahkan kita untuk tartil disaat membaca Al Quran, terlebih lagi bacaan tersebut kita baca diwaktu shalat. Begitu juga kita dianjurkan untuk memperindah suara kita agar imam maupun makmum dalam shalat jamaah bisa tenang dan akhirnya mendapatkan kekhusyuan. Sebaliknya, jika kita tergesa dalam membaca atau tidak tartil, dari segi suara bacaan juga ‘disayangkan’. Maka hal tersebut tidak membuat kita khusyu’ namun malah mengganggu dalam shalat.
Keenam: Arahkan pandangan hanya ditempat sujud, dan tidak memalingkan kelainnya
Janganlah kita mengarahkan pandangan kita selain ke tempat sujud, sebab hal tersebut akan mengganggu kekhusyukan kita dalam shalat. Bahkan terdapat larangan dalam hadits untuk melihat ke atas disaat kita shalat, begitu juga memalingkan seluruh atau sebagian badan kita karena bisa membatalkan shalat kita, lantaran telah merubah qiblat disaat sedang shalat.
Ketujuh: Hindari segala hal yang bisa menyibukkan saat sedang shalat.
Seperti penggunaan alat-alat elektronik (handphone, tv, , penggunaan pakaian yang kurang pas, serta hal-hal lainnya yang bisa mengganggu kita dalam shalat. Maka hal-hal tersebut harus kita hindari agar shalat kita senantiasa terjaga dan tidak merusak kekhusyukan disaat sedang shalat.
Demikianlah beberapa kiat dan cara agar kita mudah khusyu dalam shalat. Dengan menerapkan kiat-kiat diatas, kami berharap semoga shalat kita senantiasa memberi pengaruh yang baik dalam kehidupan kita sehari-hari.[1]

HAKIKAT PERKEMBANGAN AN ANAK

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Perkembangan
Perkembangan dapat diartikan ” suatu proses perubahan pada diri individu atau organisme, baik fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah) menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis progresif, dan berkesinambungan”, (Syamsu Yusuf : 83 ).
Istilah “Perkembangan” secara khusus diartikan sebagai “perubahan-perubahan yang bersifat kwalitatif yang menyangkut aspek-aspek mental psikologis manusia”, seperti perubahan-perubahan yang berkaitan dengan aspek pengetahuan, kemampuan, sifat sosial, moral, keyakinan agama, kecerdasan dan sebagainya, sehingga dengan perkembangan tersebut si anak akan semakin bertambah banyak pengetahuan dan kemampuannya juga semakin baik sifat sosial, moral, keyakinan agama dan sebagainya.
Dengan proses pertumbuhan fisik dan perkembangan mental psikologis yang diperoleh anak secara optimal dapat diharapkan si anak akan tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa yang baik dan berkualitas sebagaimana yang diharapkan dirinya sendiri, juga oleh orang tua dan masyarakat.
Dan semua para ahli sependapat bahwa yang dimaksud dengan perkembangan itu adalah suatu proses perubahan pada seseorang kearah yang lebih maju dan lebih dewasa, namun mereka berbeda-beda pendapat tentang bagaimana proses perubahan itu terjadi dalam bentuknya yang hakiki. (Ani Cahyadi, Mubin, 2006 : 21-22).

B. Prinsip-prinsip Perkembangan Anak
Pemahaman kita yang benar tentang perkembangan anak insyallah akan membantu kita untuk memberi perlakuan yang tepat kepada anak-anak kita. Perkembangan anak pada dasarnya adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam seluruh bagian diri anak, baik fisik, sosial, emosi, dan kognitif (berpikir). Tulisan berikut ini akan mencoba menjelaskan prinsip-prinsip penting dalam perkembangan anak.

1. Dimensi-dimensi perkembangan anak—fisik, sosial, emosi, kognitif, dan spiritual—berhubungan erat satu sama lain. Perubahan dalam satu dimensi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh dimensi lain. Perkembangan dalam satu dimensi dapat membatasi atau memfasilitasi perkembangan pada dimensi-dimensi lainnya (Sroufe, Cooper, & DeHart 1992; Kostelnik, Soderman, & Whiren 1993).
Sebagai contoh, ketika para bayi mulai belajar berjalan, kemampuan mereka untuk menjelajahi lingkungan menjadi meluas dan pergerakan mereka ini, pada gilirannya, mempengaruhi perkembangan kognitif mereka. Sebagaimana halnya perkembangan dalam keterampilan berbahasa mempengaruhi kemampuan anak-anak untuk membangun hubungan-hubungan social dengan orang dewasa dan anak-anak yang lain, dan pada gilirannya keterampilan-keterampilan dalam interaksi sosial ini dapat mendukung atau menghambat perkembangan bahasa mereka.
2. Perkembangan anak berlangsung dalam sebuah tahapan yang relatif teratur di mana kemampuan-kemampuan, keterampilan-keterampilan, dan pengetahuan-pengetahuan lanjut anak terbangun atas kemampuan-kemampuan, keterampilan-keterampilan, dan pengetahuan-pengetahuan anak sebelumnya. Riset-riset perkembangan manusia menunjukkan bahwa tahapan-tahapan pertumbuhan dan perubahan anak usia 9 tahun pertama rentang kehidupan relatif stabil dan dapat diprediksikan tahapannya (Piaget 1952; Erikson 1963; Dyson & Genishi 1993; Gallahue 1993; Case & Okamoto 1996).
Perubahan-perubahan yang dapat diramalkan ini terjadi pada semua bagian perkembangan— fisik, emosi, sosial, bahasa, dan kognitif—meskipun bagaimana perubahan-perubahan ini mewujud dan makna yang dilekatkan pada perubahan tersebut mungkin bervariasi menurut kontek budaya.
3. Perolehan perkembangan bervariasi untuk setiap anak, termasuk untuk keberfungsian semua dimensi perkembangan dalam diri anak. Keragaman individual paling tidak dalam dua makna: keragaman dari rata-rata/normatif arah perkembangan dan keunikan setiap anak sebagai individu (Sroufe, Cooper, & DeHart 1992).
Setiap anak adalah seorang pribadi unik dengan pola dan waktu pertumbuhan bersifat individual, sebagaimana halnya untuk kepribadian, temperamen, gaya belajar, latar belakang dan pengalaman keluarga. Semua anak memiliki kelebihan, kebutuhan-kebutuhan, dan minat-minat masing-masing; sejumlah mungkin memiliki kebutuhan belajar dan perkembangan yang khusus. Pemahaman tentang keragaman yang luas bahkan pada anak-anak usia kronologis (usia yang dihitung sejak anak lahir) yang sama, hendaknya mengantarkan kita pada kesadaran bahwa usia anak hanyalah sebuah gambaran kasar untuk kemasakan perkembangan anak.
Pengakuan bahwa keragaman individual bukan hanya diharapkan tapi juga dihargai menuntut kita sebagai orang dewasa ketika berinteraksi dengan anak-anak memperlakukan mereka secara tepat dengan keunikannya masing-masing. Penekanan perlakuan anak secara individual sesuai dengan keunikan masing-masing anak tidaklah sama dengan “individualisme.” Alih-alih demikian, pengakuan ini menuntut kita untuk tidak menganggap anak hanya sebagai anggota kelompok usia, kemudian mengharapkan mereka untuk menampilkan tugas-tugas perkembangan kelompok usia tersebut tanpa mempertimbangkan keragaman kemampuan adaptasi setiap individu anak.
Memiliki pengharapan tinggi terhadap anak adalah penting, tetapi memiliki harapan-harapan yang kaku menurut norma kelompok tidak mencerminkan kenyataan yang terjadi bahwa adanya perbedaan yang nyata dalam perkembangan dan belajar individual anak dalam tahun-tahun awal kehidupan. Harapan norma kelompok dapat memberi dampak yang sangat merusak terutama untuk anak-anak dengan kebutuhan perkembangan dan belajar yang khusus (NEGP 1991; Mallory 1992; Wolery, Strain, & Bailey 1992).
4. Pengalaman-pengalaman awal memberikan pengaruh yang bersifat kumulatif maupun tertunda terhadap perkembangan anak; ada periode-periode optimal untuk jenis-jenis perkembangan dan belajar tertentu. Pengalaman-pengalaman awal anak, baik positif atau negatif, bersifat kumulatif dalam arti bahwa jika sebuah pengalaman frekuensi kejadiannya jarang, maka hal tersebut juga memiliki pengaruh minimal. Jika pengalaman-pengalaman positif atau negatif sering terjadi, mereka memberikan dampak yang sangat kuat, lama, dan bahkan memiliki dampak seperti bola salju (Katz & Chard 1989; Kostelnik, Soderman, & Whiren 1993; Wieder & Greenspan 1993).

Sebagai contoh, pengalaman seorang anak prasekolah bersama anak-anak dalam tahun-tahun prasekolah membantu dia mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial dan kepercayaan diri yang memungkinkan dia memiliki teman-teman/persahabatan dalam tahun-tahun pertama sekolah dan pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menguatkan kompetensi sosialnya. Sebaliknya, anak-anak yang gagal untuk mengembangkan kompetensi sosial minimal dan diabaikan atau ditolak teman-teman sebayanya memiliki resiko tinggi untuk drop out sekolah, menjadi anak-anak dan remaja nakal, dan menunjukkan permasalahan kesehatan mental ketika mereka dewasa (Asher, Hymel, & Renshaw, 1984; Parker & Asher 1987).
5. Perkembangan berjalan dalam arah yang dapat diprediksikan menuju sebuah kondisi yang lebih kompleks, lebih terorganisasi, dan lebih terinternalisasi. Belajar selama periode anak usia dini berlangsung dari pengetahuan yang berbentuk perilaku menuju pengetahuan yang berbentuk simbolik (Bruner 1983).
Sebagai contoh, anak-anak belajar untuk mengenali rumah mereka dan tempat-tempat lain yang mereka kenal lebih dahulu sebelum mereka dapat memahami kata-kata kiri dan kanan atau membaca peta sebuah rumah. Program-program yang tepat menurut tahapan perkembangan menyediakan banyak kesempatan kepada anak-anak untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan mereka yang bersifat pengetahuan dengan menyediakan sebuah pengalaman langsung yang bervariasi dan membantu anak-anak menguasai pengetahuan yang bersifat simbolik melalui representasi pengalaman-pengalaman mereka dalam media yang beragam seperti menggambar, melukis, menyusun model, bermain drama, deskripsi-deskripsi verbal dan tertulisa (Katz1995).
Bahkan setiap anak yang masih kecil mampu untuk menggunakan beragam media untuk merepresentasikan konsep-konsep pemahaman mereka. Lebih lanjut, melalui representasi pengetahuan mereka, pengetahuan itu sendiri menjadi meningkat (Edwards, Gandini, & Forman 1993; Malaguzzi 1993;Forman 1994). Representasi modalitas sensori (baca panca indera) dan media juga bervariasi menurut usia anak. Sebagai contoh, kebanyakan bayi dan anak yang baru belajar berjalan kebanyakan belajarnya menggunakan panca indera dan motorik, tetapi anak-anak usia 2 tahun menggunakan satu benda melakukan satu hal dalam bermain (sebuah kotak untuk menelepon atau menggunakan sendok sebagai gitar).
6. Perkembangan dan belajar terjadi dalam dan dipengaruhi oleh kontek social cultural yang majemuk. Bronfenbrenner (1979, 1989, 1993) menyediakan sebuah model ekologis untuk memahami perkembangan manusia. Bronfenbrenner menjelaskan bahwa perkembangan anak paling baik dipahami dalam kontek keluarga, setting pendidikan, komunitas, dan masyarakat yang lebih luas. Kontek-kontek yang beragam ini berhubungan satu sama lain dan semuanya memiliki pengaruh terhadap anak yang sedang berkembang. Sebagai contoh, bahkan seorang anak diasuh dalam keluarga yang mencintai dan mendukungnya, komunitas yang sehat dipengaruhi oleh bias-bias masyarakat yang lebih luas, seperti rasisme atau seksisme, dan kemungkinan memperlihatkan pengaruh negatif dari stereotif negative dan diskriminasi.

7. Anak-anak adalah pembelajar aktif, mengalami langsung pengalaman fisik dan sosial sebagaimana halnya pengetahuan yang ditransmisikan secara kultural untuk menyusun pemahaman-pemahaman mereka sendiri tentang dunia yang ada di sekitar mereka. Anak-anak memiliki kontribusi terhadap perkembangan dan belajar mereka sendiri sebagaimana halnya mereka berusaha untuk menanggapi pengalaman-pengalaman harian mereka di rumah, program usia dini dan komunitas. Prinsip-prinsip dari praktek yang sesuai dengan tahapan perkembangan didasarkan pada teori-teori dominan yang memandang bahwa perkembangan intelektual dari sebuah perspektif konstruktivis-interaktif (Dewey 1916; Piaget 1952; Vygotsky 1978; DeVries & Kohlberg 1990; Rogoff.

8. Perkembangan dan belajar merupakan hasil interaksi antara maturasi biologis dan lingkungan, baik fisik maupun sosial, di mana anak-anak tinggal di dalamnya. Prinsip ini menunjukkan bahwa manusia merupakan produk hereditas (biologis) dan lingkungan dan kedua kekuatan ini berhubungan satu sama lain.
Para penganut behavioris (aliran perilaku) memfokuskan pada pengaruh-pengaruh lingkungan sebagai penentu belajar, sementara para penganut maturasionis (aliran kemasakan biologis) menekankan pentingnya hereditas—karakteristik biologis bawaan. Setiap perspektif benar sampai tingkatan tertentu dan selebihnya keduanya tidak mampu untuk menjelaskan belajar atau perkembangan. Sekarang ini, perkembangan dilihat sebagai hasil dari proses transaksional yang interaktif antara individu yang sedang tumbuh dan berkembang dengan pengalaman-pengalaman dalam lingkungan fisik dan sosial (Scarr & McCartney 1983; Plomin 1994a, b).
Sebagai contoh, sebuah bawaan genetik kemungkinan memprediksi pertumbuhan yang sehat, tetapi nutrisi yang tidak mencukupi dalam tahun-tahun awal kehidupan mengganggu terpenuhinya potensi tersebut. Disabilitas yang parah, baik disebabkan hereditas atau lingkungan, kemungkinan dapat diperbaiki melalui intervensi yang sistematik dan tepat. Demikian juga halnya, seorang anak dengan temperamen yang dibawanya—sebuah kecenderungan psikologi dalam menanggapi situasi tertentu—membentuk dan dibentuk oleh bagaimana anak-anak lain dan orang-orang dewasa berkomunikasi dengan anak tersebut
9. Bermain merupakan sebuah instrumen penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak-anak, juga sebagai sebuah refleksi atas perkembangan mereka. Memahami bahwa anak adalah konstruktor-konstruktor aktif atas pengetahuan yang dimiliki dan bahwa perkembangan dan belajar sebagai hasil proses interaktif, para guru anak usia dini mengakui bahwa bermain bagi anak merupakan sebuh kontek yang sangat mendukung untuk proses-proses perkembangan tersebut (Piaget 1952; Fein 1981; Bergen 1988; Smilansky & Shefatya 1990; Fromberg 1992; Berk & Winsler 1995).

10. Perkembangan tingkat lanjut dicapai ketika anak-anak memiliki kesempatan-kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan-keterampilan yang baru dikuasai, sebagaimana juga mereka mengalami sebuah tantangan dalam level di atas penguasaan mereka sekarang ini. Penelitian-penelitian mendemonstrasikan bahwa anak-anak perlu untuk mampu menegosiasikan sebagian besar tugas-tugas belajar dengan sukses untuk memelihara motivasi dan keteguhan mereka (Lary 1990; Brophy 1992). Dihadapkan pada kegagalan yang berulang, kebanyakan anak-anak berhenti untuk mencoba. Implikasinya adalah bahwa pada sebagian besar waktu para guru seharusnya menyediakan anak-anak dengan tugas-tugas yang dengan usaha-usahanya mereka dapat menyelesaikan dan mempresentasikannya sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.

11. Anak-anak menunjukkan cara-cara yang berbeda dalam mengetahui dan belajar, dan cara-cara yang berbeda dalam merepresentasikan apa yang mereka ketahui. Pada kurun waktu tertentu, para teoritisi belajar dan ahli psikologi perkembangan telah mengakui bahwa manusia terlahir untuk memahami dunia dalam cara-cara yang beragam dan bahwa setiap individu cenderung memiliki preferensi atau model belajar tertentu. Studi-studi perbedaan dalam modalitas belajar telah menemukan hal yang kontras antara pembelajar visual, auditori, atau taktil. Sementara karya yang lain telah mengidentifikasi jenis pembelajar mandiri atau dependen (Witkin 1962).

12. Anak-anak berkembang dan belajar dengan sangat baik dalam kontek sebuah komunitas di mana mereka aman dan dihargai, kebutuhan-kebutuhan fisik mereka terpenuhi, dan mereka merasa secara psikologis aman. Perkembangan anak-anak dalam semua bagiannya dipengaruhi oleh abilitas mereka untuk membangun dan memelihara sebuah hubungan primer yang positif secara konsisten dengan orang-orang dewasa dan anak-anak yang lain (Bowlby 1969; Stern 1985; Garbarino et al. 1992). Hubungan-hubungan primer ini berawal dalam keluarga tetapi kemudian meluas seiring berjalannya waktu termasuk guru-guru anak-anak dan anggota-anggota komunitas; oleh karena itu, praktek-praktek yang sesuai dengan tahapan perkembangan seharusnya memperhatikan dengan baik kebutuhan-kebutuhan fisik, sosial, dan emosi sebagaimana halnya perkembangan intelektual.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Persoalan mengenai faktor-faktor apakah yang memungkinkan atau mempengaruhi perkembangan, dijawab oleh para ahli dengan jawaban yang berbeda-beda. Para ahli yang beraliran “Nativisme” berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh unsur pembawaan. Jadi perkembangan individu semata-mata tergantung pada faktor dasar/pembawaan. Tokoh utama aliran ini yang terkenal adalah Schopenhauer. Berbeda dengan aliran Nativisme, para ahli yang mengikuti aliran “Empirisme” berpendapat bahwa perkembangan individu itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan, sedangkan faktor dasar/pembawaan tidak berpengaruh sama sekali. Aliran Empirisme ini menjadikan faktor lingkungan/pendidikan maha kuasa dalam menentukan perkembangan seorang individu. Tokoh aliran ini adalah John Locke. Aliran yang tampak menengahi kedua pendapat aliran yang ekstrem di atas adalah “aliran konvergensi” dengan tokohnya yang terkenal adalah William Stern. Menurut aliran konvergensi, perkembangan individu itu sebenarnya ditentukan oleh kedua kekuatan tersebut. baik faktor dasar / pembawaan maupun faktor lingkungan/pendidikan kedua-duanya secara convergent akan menentukan / mewujudkan perkembangan seseorang individu. Sejalan dengan pendapat aliran ini Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan kita juga mengemukakan adanya dua faktor yang mempengaruhi perkembangan individu yaitu faktor dasar/pembawaan (faktor internal) dan faktor ajar / lingkungan (faktor eksternal).
Menurut Elizabeth B. Hurluck, baik faktor kondisi internal maupun faktor kondisi eksternal akan dapat mempengaruhi tempo/kecepatan dan sifat atau kualitas perkembangan seseorang. Tetapi sejauh mana pengaruh kedua faktor tersebut sukar untuk ditentukan, lebih-lebih lagi untuk dibedakan mana yang penting dan kurang penting.
Selain faktor-faktor yang tersebut di atas, masih ada lagi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak didik, diantaranya adalah faktor teman sebaya, keragaman budaya dan faktor media massa.
1. Faktor teman sebaya
Makin bertambah umur, si anak makin memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengadakan hubungan-hubungan dengan teman-teman sebayanya, sekalipun dalam kenyataannya perbedaan-perbedaan umur yang relatif besar tidak menjadi sebab tidak adanya kemungkinan melakukan hubungan-hubungan dalam suasana bermain.
Anak yang bertindak langsung atau tidak langsung sebagai pemimpin, atau yang menunjukkan ciri-ciri kepemimpinan dengan sikap-sikap menguasai anak-anak lain, akan besar pengaruhnya terhadap pola-pola sikap atau pola-pola kepribadian. Konflik-konflik terjadi pada anak bilamana norma-norma pribadi sangat berlainan dengan norma-norma yang ada di lingkungan teman-teman. Di satu pihak ia ingin mempertahankan pola-pola tingkah laku yang diperoleh di rumah, sedangkan di pihak lain lingkungan menuntutsi anak untuk memperlihatkan pola yang lain, yang bertentangan dengan pola yang sudah ada, atau sebaliknya.
Makin kecil kelompoknya, di mana hubungan-hubungan erat terjadi, makin besar pengaruh kelompok itu terhadap anak, bila dibandingkan dengan kelompok yang besar yang anggota-anggota kelompoknya tidak tetap.
2. Keragaman budaya
Bagi perkembangan anak didik keragaman budaya sangat besar pengaruhnya bagi mental dan moral mereka. Ini terbukti dengan sikap dan prilaku anak didik selalu dipengaruhi oleh budaya-budaya yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Pada masa-masa perkembangan, seorang anak didik sangat mudah dipengaruhi oleh budaya-budaya yang berkembanga di masyarakat, baik budaya yang membawa ke arah prilaku yang positif maupun budaya yang akan membawa ke arah prilaku yang negatif.
3. Media Massa
Media massa adalah faktor lingkungan yang dapat merubah atau mempengaruhi prilaku masyarakat melalui proses-proses. Media massa juga sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan seseorang, dengan adanya media massa, seorang anak dapat mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan dengan pesat. Media massa dapat merubah prilaku seseorang ke arah positif dan negatif. Contoh media massa yang sangat berpengaruh adalah media massamassa saat ini berkembang semakin canggih. Semakin canggih suatu media massa maka akan semakin terasa dampaknya bagi kehidupan kita. elektronik antara lain televisi. Televisi sangat mudah mempengaruhi masyarakat, khususnya anak-anak yang dalam perkembangan melalui acara yang disiarkannya. Media





BAB III
P E N U T U P


A. Kesimpulan
Di akhir pembuatan makalah ini penulis mencoba mengambil beberapa kesimpulan yang menjadi intisari dari uraian di atas, yaitu:
1. Perkembangan adalah suatu perubahan yaitu perubahan menuju ke arah yang lebih maju dan lebih dewasa. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam seluruh bagian diri anak, baik fisik, sosial, emosi, dan kognitif (berpikir).
2. Faktor pembawaan dan lingkungan adalah dua faktor yang sangat menentukan bagi perkembangan setiap individu.

Demikianlah penutup dari makalah ini, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amien, Ya Rabbal ‘Alamin.


DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1995,
Drs. Abu Ahamdi & Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1991.
Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, Usaha Nasioanal, Surabaya, 1987.
Drs. M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum & Perkembangan, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1992.
Dr. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1992.
Drs. H. M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1995, hal. 11.
Drs. H. M. Alisuf Sabri, Ibid, hlm. 41.
Drs. Abu Ahamdi & Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1991, hlm. 64.
Ibid, hlm. 66.
Ibid, hlm. 170.
Ibid, hal. 177.
Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, Usaha Nasioanal, Surabaya, 1987, hlm. 14.
Drs. H. Abu Ahmadi & Dra. Nur Uhbiyati, Op. Cit, hlm. 181.
Ibid, hlm. 184.
Drs. M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum & Perkembangan, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1992, hlm. 173-174.
Dr. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1992, hlm. 44.
http://fadliyanur.blogspot.com/2008/02/lingkungan-perkembangan-anak-didik-dan.html

http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/25/perkembangan-motorik-kasar-dan-perkembangan-motorik-halus/

Saturday, 30 June 2012

Normal dan Abnormal

NORMAL
Normal(Maramis, 1999)adalah keadaan sehat (tidak patologis) dalam hal fungsi keseluruhan.
Perilaku Normal(Kartini Kartono, 1989)adalah perilaku yang adekuat (serasi dan tepat) yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya.

ABNORMAL
Perilaku Pribadi Abnormal (Kartini Kartono, 1989)adalah sikap hidup yang tidak sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat seseorang berada sehingga tidak tercapai suatu relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan.
Abnormal adalah menyimpang dari yang normal (tidak biasa terjadi).
Perilaku Abnorma ladalah suatu perilaku yang berbeda, tidak mengikuti peraturan yang berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dapat dimengerti melalui kriteria yang biasa.

PENDEKATAN NORMALITAS KUANTITAS
Pendekatan yang didasarkan atas patokan statistik dengan melihat pada sering atau tidaknya sesuatu terjadi dan acapkali berdasarkan perhitungan maupun pikiran awam.
Misal, perilaku makan sepuluh kali dalam sehari.
Pendekatan yang didasarkan observasi empirik pada tipe-tipe ideal dan sering terikat pada faktor sosial kultural setempat.
Misal, perilaku menangis berlebihan hingga menjerit-jerit pada mereka yang sedang mengalami kehilangan seseorang di suatu lingkungan budaya.
Abnormal dari berbagai sudut pandang
a. Statistical infrequency
Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva.
Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, ketrampilan membaca, dsb.
Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.
Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal.

b. Unexpectedness
Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.
c. Violation of norms
Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi.
Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal.
Kriteria ini  mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal.
d. Violation of norms
Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal.

e. Personal distress
Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan.
Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik.
Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.
f. Disability
Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.
Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual.
Mitos dan fakta tentang perilaku abnormal

PEMAHAMAN
Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.

Kriteria Pribadi Normal
(Maslow and Mittelman)
1. Memiliki perasaan aman yang tepat
2. Memiliki penilaian diri (self evaluation) dan insigt/ wawasan rasional
4. Memiliki spontanitas dan emosionla yang tepat
5. Mempunyai kontak dengan realitas secara efisien
6. Memiliki dorongan dan nafsu jasmaniah yang sehat
7. Mempunyai pengetahuan diri yang cukup
8. Mempunyai tujuan/objek hidup yang adekuat
9. Memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman hidupnya.
10.Ada kesanggupan untuk memuaskan tuntutan dan kebutuhan dari kelompokny
11. Ada sikap emansipasi yang sehat terhadap kelompoknya dan terhadap kebudayaan.
12. Ada integrasi dalam kepribadiannya

Ibnu Rusyd


Filsafat Ibnu Rusyd yang hadir dalam kanca dunia islam ternyata banyak memberikan pengaruh terhadap dunia. Pada prestasi yang diraihnya merupakan puncak dari klimaks atau merupakan puncak penutup dari kejayaan gelombang pemikiran filsafat. Walupun demikian pemikiran-pemikiran Ibnu Rusyd yang mempengaruhi dunia hingga Eropa. Dalam filsafatnya itu yang banyak sekali yang dapat dikaji, namun untuk dapat mengkaji semuanya itu banyak sekali waktu yang kita perlukan untuk mengkajinya. Sehingga untuk itu kita hanya dapat menampilkan poin-poin yang dianggab layak untuk ditampilkan.

Hasil karangan Ibnu Rusyd yang sangat banyak baik yang mencakup masalah teologi, sastra Arab, matematia, astronomi dan lain-lain. Yang sangat banyak, hingga akhir hayat dari hidupnya ia curahkan untuk ilmu pengetahuan. 

Banyak dari pemikiran Ibnu Rusyd yang mengarah pada oreintasi ilmiah dan sistematis, yang menjelaskan hubungan akal dan agama. Yang selama ini dalam pandangan orang-orang Barat sangatlah sulit untuk menggabungkan antara keduanya. Dalam hal ini Ibnu Rusyd berani untuk mencoba menggabungkan filsafat dengan agama, yang selama ini oleh orang-orang Barat tidak dapat menjelaskan atau menggabungkan antara akal (filsafat) dengan agama (teologi). Ditanag Ibnu Rusyd, ia olah menjadi mungkin dan bahkan agama menjadi pendukung terhadap filsafat dan juga sebaliknya.

Untuk lebih jelas dapat di download diSini