Showing posts with label perilaku. Show all posts
Showing posts with label perilaku. Show all posts

Saturday, 30 June 2012

Normal dan Abnormal

NORMAL
Normal(Maramis, 1999)adalah keadaan sehat (tidak patologis) dalam hal fungsi keseluruhan.
Perilaku Normal(Kartini Kartono, 1989)adalah perilaku yang adekuat (serasi dan tepat) yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya.

ABNORMAL
Perilaku Pribadi Abnormal (Kartini Kartono, 1989)adalah sikap hidup yang tidak sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat seseorang berada sehingga tidak tercapai suatu relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan.
Abnormal adalah menyimpang dari yang normal (tidak biasa terjadi).
Perilaku Abnorma ladalah suatu perilaku yang berbeda, tidak mengikuti peraturan yang berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dapat dimengerti melalui kriteria yang biasa.

PENDEKATAN NORMALITAS KUANTITAS
Pendekatan yang didasarkan atas patokan statistik dengan melihat pada sering atau tidaknya sesuatu terjadi dan acapkali berdasarkan perhitungan maupun pikiran awam.
Misal, perilaku makan sepuluh kali dalam sehari.
Pendekatan yang didasarkan observasi empirik pada tipe-tipe ideal dan sering terikat pada faktor sosial kultural setempat.
Misal, perilaku menangis berlebihan hingga menjerit-jerit pada mereka yang sedang mengalami kehilangan seseorang di suatu lingkungan budaya.
Abnormal dari berbagai sudut pandang
a. Statistical infrequency
Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva.
Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, ketrampilan membaca, dsb.
Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.
Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal.

b. Unexpectedness
Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.
c. Violation of norms
Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi.
Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal.
Kriteria ini  mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal.
d. Violation of norms
Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal.

e. Personal distress
Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan.
Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik.
Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.
f. Disability
Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.
Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual.
Mitos dan fakta tentang perilaku abnormal

PEMAHAMAN
Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.

Kriteria Pribadi Normal
(Maslow and Mittelman)
1. Memiliki perasaan aman yang tepat
2. Memiliki penilaian diri (self evaluation) dan insigt/ wawasan rasional
4. Memiliki spontanitas dan emosionla yang tepat
5. Mempunyai kontak dengan realitas secara efisien
6. Memiliki dorongan dan nafsu jasmaniah yang sehat
7. Mempunyai pengetahuan diri yang cukup
8. Mempunyai tujuan/objek hidup yang adekuat
9. Memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman hidupnya.
10.Ada kesanggupan untuk memuaskan tuntutan dan kebutuhan dari kelompokny
11. Ada sikap emansipasi yang sehat terhadap kelompoknya dan terhadap kebudayaan.
12. Ada integrasi dalam kepribadiannya

Tuesday, 26 June 2012

Berpikir Positif


Kehidupaan saat ini dipenuhi dengan kebohongan, buah dari pemikiran negatif, pencariaan kesalahan orang lain yang lebih penting dibanding kesalahan diri sendiri. Setelah waktu yang lama ditempuh, orang akan menemukan kesadaraan bahwa mereka hidup dalam dunia yang negatif, merekapun tahu mereka harus dapat berubah secepat mungkin. Kadang-kadang orang berpikir bahwa mereka hidup secara positif tetapi sebenarnya tidak karena itu hanya bagaimana mereka memberikan gambaran terhadap pikiran mereka, dan tidak sesederhana seperti apa kelihatannya. Tidak peduli sampai di mana tahap pertumbuhan kita alami, akan tetapi kita selalu dapat berpikir untuk perubahan yang positif dan memberikan yang terbaik.

Berpikir positif dapat digambarkan sebagai suatu cara berpikir yang lebih menekankan pada sudut pandang dan emosi yang positif, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun situasi yang dihadapi. Dimana pikiran positif dapat membangun dan memperkuat kepribadian atau karakter dari seseorang. Hal ini berarti bahwa kita bisa menjadi pribadi yang lebih matang, lebih berani menghadapi tantangan, dan melakukan hal-hal yang hebat. Pikiran positif tak akan membuat kita berhenti karena keterbatasan atau kelemahan kita, namun pikiran positif justru akan membuat kita mencari kekuatan kita hari demi hari.

Untuk lebih lengkap makalahnya kawan-kawan bisa Download diSini

Manajemen


  1. Latar Belakang
Manajemen ilmiah merupakan hasil pemikiran yang lebih maju yang di kembangkan oleh para tokoh-tokoh manajemen terkemuka. Manajemen klasik yang semula sudah kurang dapat di terapkan pada zaman sekarang ini, oleh karenanya dengan adanya manajemen modern saat ini sungguh sangat membantu aktivitas lebih efektif dan efisien. Walaupun sebenarnya tidak mutlak bahwa pemikiran manajemen ilmiah adalah benar seratus persen tanpa adanya kekurangan. Dalam manajemen ilmiah juga dapat di temukan kelemahan-kelemahan dan keterbatasan pemikiran akan tetapi itu tidak mengurangi bahwa pemikiran manajemen ilmiah itu sangat penting untuk kemajuan zaman saat ini.


  1. Rumusan Masalah
Beberapa rumusan masalah dalam sub bab bahasan mengenai pemikiran manjemen ilmiah ialah:
  • Bagaimana pokok pemikiran manajemen ilmiah
  • Siapa saja tokoh-tokoh pemikir manejemen ilmiah
  • Bagaiman pandangan prilaku organisasi
  • Bagaimana pandangan pendekatan sistem
  • Seperti apa pendekatan kontingensi
  • Bagaimanakah manajemen administratif itu

  1. Tujuan penulisan
Adapun beberapa tujuan penulisan makalah ini antara lain:
  • Agar dapat mengetahui pokok pemikiran manajemen ilmiah
  • Mengetahui tokoh-tokoh manajemen ilmiah
  • Mengetahui seperti apa pandangan prilaku suatu organisasi
  • Mengetahui pendekatan sistem suatu manajemen
  • Mengetahui seperti apa pendekatan kontingensi
  • Mengetahui seperti apa manajemen administratif

  1. Metode Kepenulisan
Adapun metode yang di gunakan ialah metode kepustakaan yakni dengan mengumpulkan bahan-bahan yang relevan dengan judul makalah dan media internet.

Untuk lebih lengkapnya kawan-kawan bisa DOWNLOAD diSini