Showing posts with label akidah. Show all posts
Showing posts with label akidah. Show all posts

Friday, 29 June 2012

Beriman kepada kitab Allah


Beriman kepada kitab Allah, kitab Allah yang dimaksudkan adalah kitab-kitab yang telah diturunkan Allah SWT kepada para Rasul. Kitab-kitab sebagai petunjuk untuk umat manusia agar memperoleh kebahagiaan hidup, baik didunia maupun di akherat.
Al-Qur’an memenuhi segala kebutuhan manusia, baik dari aspek aqidah, ibadah, etika, mu’amalah maupun tata atura. Al-Qur’an menjamin terciptanya pribadi yang sempurna, keluarga sejahtera, masyarakat yang damai, negara yang adil, dan karakter yang kuat yang dapat menegakkan kebenaran dan keadilan, membasmi penganiayaan, dan menangkal permusuhan. Al-Qur’an sebagai satu mediator untuk merealisasikan kekhalifahan dan kewarisan di muka bumi. Allah berfirman : “wahai ahli kitab, rasul kami telah datang kepada kalian yang menerangkan kebanyakan kitab yang kalian sembunyikan dan memaafkan kebanyakan yang lain. Sesungguhnya cahaya dan kitab yang menerangkan telah datang kepada kalian dari Allah. Di dalam kitab itu, Allah menunjukkan orang-orang yang mengharapkan keridhoan-Nya menuj jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju keterang benderang dengan izin-Nya. Allah menunjukkan mereka ke jalan yang lurus”.

Untuk lebih jelasnya bisa download diSini


Shalat Sebagai Ciri Orang yang Beriman



Rasulullah pernah bersabda: “Shalat itu adalah tiangnya agama, barang siapa yang mendirikannya maka berarti ia telah mendirikan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia telah meruntuhkan agama” (Al-Hadits). Bahkan hal ini dipertegas oleh firman Allah SWT.:
حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوتِ وَالصَّلوةِ الْوُسْطَ وَقُوْمُوْا لِلَّهِ قَنِتِيْنَ.
Artinya: “Jagalah (peliharah) segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah [2]: 238).
Dengan hujjah di atas, dapat kita pahami bahwa begitu pentingnya melaksanakan dan memelihara shalat (shalat fardhu). Karena melaksanakan shalat merupakan salah satu ciri bagi orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT., dan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Hal ini telah nyata dalam Firman-Nya:
وَاَقِمِ الصَّلَاةَ لِلذِّكْرِيْ
Artinya: “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (Thaha [20]: 14)
Jelas sekali, bahwa dengan shalat kita dituntut untuk bisa mengingat-Nya, mengingat kebesaran-Nya dan mengakui kerendahan diri di hadapan-Nya. Namun, ada sebagian orang yang salah mengartikan makna ayat ini, mereka beranggapan tidak wajib shalat kalau kita bisa mengingat-Nya tanpa melakukan gerakan shalat seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Mereka hanya melihat esensi shalat semata, tidak melihatnya sebagai syari’at yang harus dilaksanakan oleh orang yang beriman.
Oleh karena itu, kiranya hal itu bisa dijadikan salah satu alasan dan latar belakang dibuatnya makalah ini dengan judul ‘Shalat Sebagai Ciri Orang yang Beriman”. 
Untuk lebih Lengkapnya bisa download diSini


Tuesday, 26 June 2012

Iman



  1. RUKUN IMAN
  1. Apa yang dinamakan Beriman kepada Allah SWT ?
Yang dinamakan “Beriman kepada Allah” ialah: mempunyai suatu akidah yang pasti, bahwa Allah ialah Rabbu tiada suatu, DIA yang memilikinya, dan hanya DIA menciptakannya sendirian.
Yang dinamakan “Beriman kepada Allah SWT” mempunyai akidah pasti, “ Sesungguhnya Allah:
  1. Rabbu tiap sesuatu.
  2. Pemiliknya.
  3. Yang berhak disembah.
  4. Penciptanya, seorang-Nya.
  5. Yang patut merendahkan diri kepada-Nya.
  6. Yang merendukkan dirinya kepada-Nya.
  7. Yang menerima semua macam perhambaan.
  8. Bersifat dengan semua sifat keagunan.
  9. Bersifat dengan semua sifat kesempurnaan.
  10. Bersih atau terhindar dari semua yang buruk.
  11. Bersih atau terhindar dari semua yang kurang.
Kata “Arrabbu” berarti:
  1. Nama Allah SWT. Tidak boleh menggunakan kata itu untuk nama, kecuali dengan menambahnya dengan kata lain.
  2. Almaaliku = Yang mempunyai.
  3. Assayidu = Tuhan
  4. Almurabbi = Pendidik.
  5. Alqaayimu = Yang meluruskan.
  6. Amun’imu = Yang memberi nikmat.
  7. Amudabiru = Yang mengatur.
  8. Amuslihu = Yang membaikkan
  1. Apakah dalil naqli mengenai rukun iman ?
اَخْبِرْ نِى عَنِ الاِْ يمَْانِ! قَالَ اَنْ تُؤْ مِنَ بِاللهِ وَمَلآ ئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرَسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلاخِرِ وَتُؤْ مِنَ بِاللهِ خَيْرِهِ وَشَّرِهِ. قَالَ : صَدَقْتَ.
Terjenahnya:
“Jibril mengatakan kepada Nabi Muhammad, “Sebutkanlah kepadaku mengenai IMAN!” Jawab Beliau, “Hendaklah kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada kadar baik dan kadar buruknya,” Jawab Jibril, “ Jawabanmu itu benar.” 1
Iman terdapat dalam hati. Oleh sebab itu, seorang mukmin bukan saja bersyahadatain dan mengamalkan semua rukun islam, tapi hatinya ikut melaksanakannya. Dengan demikian, maka tingkat Mukmin lebih tinggi dari Muslim. Semua peraturan Ilmu dalam Al-Qur’an pada umumnya diturunkan atas Mukmin bukan Muslim.
  1. Sifat yang wajib bagi Allah SWT.
1. Sifat wajib bagi Allah terbagi 4 bagian, yaitu:
  1. Sifat wujudiah, yaitu yang membahas wujud atas ada Allah SWT. Sifat wujudiah ini hanya ada 1, yaitu:
  1. الْوُجُوْدُ = Ada
  1. Sifat Salbiyah, yaitu yang menindakan (wajib ada pada Allah)
  1. الْقِدَمُ = Tidak bermulaan
  2. الْبَقَاءُ = Tidak berkesusahan
  3. مُخَا لَفَتُهُ لِلْحَوَادِ ثِ = Tidak sama dengan makluk-Nya
  4. قِيَا مُهُ بِنَفْسِهِ = Tidak membutuhkan makluk-Nya
  5. الْوَحْدَانِيَةُ = Tidak terbilang (satu yang tunggal)
  1. Sifat Ma’ani, yaitu yang mengenai maknanya (Mustahil pada Allah SWT)
  1. الْحَادِثُ = Bepermulaan
  2. الْفَنَاءُ = Berkesudahan
  3. الْمُشَا بَهُةُ لِلْحَوَادِ ثِ = Sama dengan makluknya
  4. الاْحِتِيَا جُ لِلْحَوَادِ ثِ = Membutuhkan makhluknya
  5. الْتَعَدُّ دُ = Berbilang (lebih dari satu)
  1. Sifat Ma’nawiyah, yaitu yang mengenai pengertiannya
  1. كَوْ نُهُ قَا دِ رًا = Maha Mampu/Kuasa
  2. مُرِيْدًا = Maha Menginginkan
  3. عَلِيْمًا = Maha Tahu/Berilmu
  4. حَيًّا = Maha Hidup
  5. سَمِيْعًا = Maha Mendengar
  6. بَصِيْرًا = Maha Melihat
  7. مُتَكَلِمًا = Maha Berbicara
  1. SIFAT YANG JAIZ BAGI ALLAH SWT
  1. اِيْجَا دُالْشَّىْ ءِ اَوْاِعْدَا مُهُ = Mengadakan atau Menindakan Sesuatu
  1. Sifat Wujudiyah: Bukti ada Allah SWT.
Dalil Naqli:
  .
Terjemahan :
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin”. (Q.S. Ad-Dzaariyat: 20)

b. Sifat Salbiyah
  1. Allah Tidak Berpermulaan
Kata “Allah” berasal dari kata: Illahun dengan menambahkan kata aliflam pada permulaanya, agar terbentuknya jadi makrifat atau dikenal. Aliflam itu bagaikan kata THE dalam bahasa Inggris. Dengan adanya kata THE di depan, maka kata yang dimasukinya jadi dikenal. Setelah aliflamnya masuk, maka kata itu jadi: Al-Illahu untuk memudahkan membacanya, maka huruf (i)-nya dibuang, sehingga jadi Allaahu dan dibaca pada waktu berhenti atau waqab “Allah”.
Kata “Allah” tidak boleh digunakan kepada selain DIA, kecuali ditambah dengan kata lain di depanya. Umpamanya: Abdullah. Kata “Allah” mempunyai pengertian: Alma’buudu bihaqqin = yang berhak disembah atau beribadat kepada-Nya.




Dalil Naqli mengenai Allah tidak berpermulaan dan tidak berkesusahan.

Terjemahnya:
“Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”. (Q.S. Al-Hadiid: 3)

  1. Allah Tidak Berkesusahan
Dalil Naqli:
Terjemahnya:
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”.
(Q.S. Ar-Rahman: 26-27)
3. Allah Tidak Sama Dengan Makluknya
Dalil Naqli:
لَيْسَ كَمِثَلِه شَىْءٌ وَّهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ.
Terjemahanya:
“Tidak ada yang seumpamanya suatupun dan DIA (Allah) Maha Mendengar dan Maha Melihat”
4. Allah Tidak Membutuhkan Makluk (Allah Berdiri Sendiri)
Allah tidak membutuhkan TEMPAT-NYA berada. Bila DIA harus bertempat, maka manakah alam yang dapat ditempatinya. Sedemikian besar-Nya, malahan diucapkan dalam permulaan shalat umat islam. Allahu Akbar = Allah Maha Besar
5. Allah Tidak Berbilang (Allah Esa/Tunggal)
Kata “Alwahdaniyah” berasal dari “Alwaahid” yang berarti SATU.
Dalil Naqli:

Terjemahnya :
1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
(Q.S. Al-Iklas : 1 - 4)
c. Sifat Ma’nawiyah
  1. Allah Maha Ampun/Kuasa
Kata “Qudrat” bisa diterjemahkan dengan “Kuasa” atau “mampu”.
Dalil Naqli:

Terjemahnya :
“Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
(Q.S. Al-Imran: 165)
  1. Allah Maha Menginginkan
Dalil Naqli:

Terjemahnya :
" Sesungguhnya Perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, Maka jadilah ia". ( An-Nahl: 40)

  1. Allah Maha Berilmu
Kata “Ilmu” berasal dari bahasa Arab: ‘alima—ya’alamu—‘ilmu. Diucapkan “Ilmu”, yaitu : ma’rifatus syai-i bihaqiiqatihii = Mengetahui sesuatu sampai akhir hakikanya.
Dalil Naqli:
Terjemahnya:
“Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”. (Q.S. Ath-Thalaq: 12)
  1. Allah Maha Hidup
  2. Allah Maha Mendengar
Dalam bahasa Indonesia “mendengar” ialah : menangkap perkataan orang dan dapat menangkap suara (bunyi) dengan telinga.
Dalil Naqli:
اِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ.
Terjemahnya:
“Sesungguhnya Allah, DIA-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat”(Q.S. Al- Mukmin: 12)

  1. Allah Maha Melihat
Kata “bashara bissyi-i mempunyai pengertian: mengetahui dan Nazhara ilahi = absharahauu wa ta = ammalahu = melihat dengan mengamat-amati.
Dalam bahasa Indonesia ia berarti: menggunakan mata untuk mengetahui.
Dalil Naqli:

Terjemahnya:
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(Q.S. An-Nisaa’: 58)

  1. Allah Maha Berbicara
Menurut pengertian bahasanya ialah: Al-Ashwaatul mufidah = suara-suara yang mempunyai pengertian.
Menurut istilah Para Ahli Kalama tau Ahli Tauhid ialah: Alma’nal qaa-lmu binafsil ladzii yu’abbaru’anhubi alfaazhin = pengertian yang terdapat pada jiwa/diri yang diungkapkan dengan lafal-lafal.
Menurut istilah orang Nahu ialah: Aljumlatul murak kabatul mffidatu/berfaedah.
Dalil Naqli :

Terjemahan:
“Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”.(Q.S. An-Nisaa’: 163)
  1. Sifat Yang Jaiz bagi Allah SWT
Yang jaiz bagi Allah SWT hanyalah satu, yaitu:
Mengadakan sesuatu atau menidakkannya. Adapun mengadakan yang ada dan menidakan yang mustahil, mak itu tidak ta’alluqnya iradah dan Qudrat-Nya.
Dalil Naqli:
يَحْحُوْاللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ.
Terjemahnya :
“Allah menghapus apa yang DIA sukai dan menetapkannya.” (Q.S. Ibrahim: 39)


1 Hr. Muslim