Showing posts with label potensi. Show all posts
Showing posts with label potensi. Show all posts

Tuesday, 26 June 2012

Berpikir Positif


Kehidupaan saat ini dipenuhi dengan kebohongan, buah dari pemikiran negatif, pencariaan kesalahan orang lain yang lebih penting dibanding kesalahan diri sendiri. Setelah waktu yang lama ditempuh, orang akan menemukan kesadaraan bahwa mereka hidup dalam dunia yang negatif, merekapun tahu mereka harus dapat berubah secepat mungkin. Kadang-kadang orang berpikir bahwa mereka hidup secara positif tetapi sebenarnya tidak karena itu hanya bagaimana mereka memberikan gambaran terhadap pikiran mereka, dan tidak sesederhana seperti apa kelihatannya. Tidak peduli sampai di mana tahap pertumbuhan kita alami, akan tetapi kita selalu dapat berpikir untuk perubahan yang positif dan memberikan yang terbaik.

Berpikir positif dapat digambarkan sebagai suatu cara berpikir yang lebih menekankan pada sudut pandang dan emosi yang positif, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun situasi yang dihadapi. Dimana pikiran positif dapat membangun dan memperkuat kepribadian atau karakter dari seseorang. Hal ini berarti bahwa kita bisa menjadi pribadi yang lebih matang, lebih berani menghadapi tantangan, dan melakukan hal-hal yang hebat. Pikiran positif tak akan membuat kita berhenti karena keterbatasan atau kelemahan kita, namun pikiran positif justru akan membuat kita mencari kekuatan kita hari demi hari.

Untuk lebih lengkap makalahnya kawan-kawan bisa Download diSini

Potensi Perasaan


  1. Jenis-Jenis Perasaan
  1. Perasaan-perasaan jasmaniah; jenis perasaan ini sering pula disebut sebagai;
  1. Perasaan sensori, yaitu perasaan yang berhubungan stimuli terhadap indra, misalnya: dingin, hangat, masam dan sebaginya.
  2. Perasaan (uitai); yaitu perasaan yang berhubungan kondisi jasmani pada umumnya misalnya: lelah, lesu, lemah, sehat dan sebagainya.
  1. Perasaan-perasaan rohaniah; sering pula disebut sebagai perasaan luhur.
  1. Perasaan intelektual; yaitu perasaan yang berhubungan dengan kesanggupan intelektual dalam mengatasi dalam suatu masalah, misalnya: senang atau puas.
  2. Perasaan etis yaitu perasaan yang berhubungan baik dan buruk, misalnya: puas ketika mampu melakukan yang baik.
  3. Perasaan esites; yaitu perasaan yang berhubungan dengan penghayatan dan apresiasi tentang sesuatu yang indah atau tidak indah.
  4. Perasaan sosial; yaitu perasaan yang cenderung mengikatkan diri dari seseorang lain, misalnya: perasaan cinta sesama manusia rasa ingin bergaul, rasa ingin menolong, rasa simpati, rasa setia kawan, dan lainnya.
  5. Perasaan harga diri: yaitu perasaan-perasaan berhubung penghargaan diri seseorang, misalnya; rasa senang, puas, bangga, penghargaan dari orang lain.

  1. Memahami Pengertian Perasaan
Perasaan bisa disifatkan sebagai suatu keadaan jiwa yang dialami oleh setiap orang pada suatu waktu. Misalnya: orang merasa iba, terharu, pilu, gembira, merasa senang, atau tidak senang tercanggang, dan sebagainya. Dengan perkataan lain, perasaan adalah suatu keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa umum yang datang dari luar yang dapat menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada diri orang yang bersangkutan.
Perasaan yang dialami setiap orang terhadap sesuatu keadaan tidak sama antara yang lain. Oleh karena itu dalam peristiwa yang berhubung dengan perasaan itu mempunyai sifat.
Perasaan adalah suatu keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang pada umumnya datang dari luar individu dan peristiwa-peristiwa yang luar individu dan peristiwakan kegoncangan-kegoncangan dari individu yang bersangkutan. Keadaan ini dapat menimbulkan sesuatu keadaan dalam diri sesuatu keadaan dalam diri orang.
Perasaan keaktifan kita tidak bisa merupakan sifat dari pada keaktifan itu tidak berubah-ubah senang hati sesuatu keaktifan kita jalankan dengan senang hati tetapi berupa yang perasaan sesalu berubah-ubah.
Perasaan menjauhkan diri daripada suatu pengalaman untuk melanjutkan dan mengulangan suatu keaktifan yang menyenangkan. Sebaliknya kita menjauhkan diri dan berusaha atau menghentikan bila ia tidak menyenangkan. Tetapi kita dapat membayangkan akibat-akibat yang lebih tidak menyenangkan kita sukai, maka kita akan melakukannya sesuatu yang tidak menyenangkan mula-mula menjadi menyenangkan akhirnya.

  1. Memahami Jenis-Jenis Perasaan
Perasaan terbagi atas:
Perasaan-perasaan jasmaniah; jenis perasaan-perasaan ini sering pula disebut sebagai perasaan rendah diri, terdiri dari:
Perasaan sensoris; yaitu perasaan yang berhubungan dengan stimuli terhadap indra, misalnya: dingin, hangat, pahit, asam, dan sebagainya.
Perasaan (uital) yaitu perasaan yang berhubungan kondisi jasmani pada umumnya misanya: lelah, letih, lemah, sehat, dan sebagainya.
Perasaan rohaniah; sering pula disebut perasaan luhur, terdiri dari: perasaan intelektual; yaitu perasaan berhubungan kesanggupan intelektual dalam mengatasi sesuatu masalah, misalnya: senang atau puas ketika berhasil.
Perasaan estetis; yaitu perasaan yang berhubungan dengan penghayatan dan apresiasi tentang sesuatu tang indah atau tidak indah.
Perasaan yang cenderung untuk mengikatkan diri dari dengan orang-orang lain, misalnya: perasaan cinta sesama manusia, rasa ingin bergaul, rasa ingin menolong rasa simpati rasa setia kawan, dan sebagainya.
Perasaan harga diri yaitu perasaan yang berhubungan dengan penghargaan diri seseorang, misalnya: rasa senang, puas, bangga akibat adanya pengakuan dan penghargaan dari orang lain.

KESIMPULAN
Perasaan keadaan jiwa yang dialami oleh setiap orang pada suatu waktu. Perasaan adalah suatu keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang umumnya datang dari luar, dapat menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada diri orang lain bersangkutan. Suatu keadaan tidak sama antara yang seorang dengan yang lainya. Oleh karena itu nperistiwa berhubungan dengan perasaan.

Iman



  1. RUKUN IMAN
  1. Apa yang dinamakan Beriman kepada Allah SWT ?
Yang dinamakan “Beriman kepada Allah” ialah: mempunyai suatu akidah yang pasti, bahwa Allah ialah Rabbu tiada suatu, DIA yang memilikinya, dan hanya DIA menciptakannya sendirian.
Yang dinamakan “Beriman kepada Allah SWT” mempunyai akidah pasti, “ Sesungguhnya Allah:
  1. Rabbu tiap sesuatu.
  2. Pemiliknya.
  3. Yang berhak disembah.
  4. Penciptanya, seorang-Nya.
  5. Yang patut merendahkan diri kepada-Nya.
  6. Yang merendukkan dirinya kepada-Nya.
  7. Yang menerima semua macam perhambaan.
  8. Bersifat dengan semua sifat keagunan.
  9. Bersifat dengan semua sifat kesempurnaan.
  10. Bersih atau terhindar dari semua yang buruk.
  11. Bersih atau terhindar dari semua yang kurang.
Kata “Arrabbu” berarti:
  1. Nama Allah SWT. Tidak boleh menggunakan kata itu untuk nama, kecuali dengan menambahnya dengan kata lain.
  2. Almaaliku = Yang mempunyai.
  3. Assayidu = Tuhan
  4. Almurabbi = Pendidik.
  5. Alqaayimu = Yang meluruskan.
  6. Amun’imu = Yang memberi nikmat.
  7. Amudabiru = Yang mengatur.
  8. Amuslihu = Yang membaikkan
  1. Apakah dalil naqli mengenai rukun iman ?
اَخْبِرْ نِى عَنِ الاِْ يمَْانِ! قَالَ اَنْ تُؤْ مِنَ بِاللهِ وَمَلآ ئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرَسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلاخِرِ وَتُؤْ مِنَ بِاللهِ خَيْرِهِ وَشَّرِهِ. قَالَ : صَدَقْتَ.
Terjenahnya:
“Jibril mengatakan kepada Nabi Muhammad, “Sebutkanlah kepadaku mengenai IMAN!” Jawab Beliau, “Hendaklah kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada kadar baik dan kadar buruknya,” Jawab Jibril, “ Jawabanmu itu benar.” 1
Iman terdapat dalam hati. Oleh sebab itu, seorang mukmin bukan saja bersyahadatain dan mengamalkan semua rukun islam, tapi hatinya ikut melaksanakannya. Dengan demikian, maka tingkat Mukmin lebih tinggi dari Muslim. Semua peraturan Ilmu dalam Al-Qur’an pada umumnya diturunkan atas Mukmin bukan Muslim.
  1. Sifat yang wajib bagi Allah SWT.
1. Sifat wajib bagi Allah terbagi 4 bagian, yaitu:
  1. Sifat wujudiah, yaitu yang membahas wujud atas ada Allah SWT. Sifat wujudiah ini hanya ada 1, yaitu:
  1. الْوُجُوْدُ = Ada
  1. Sifat Salbiyah, yaitu yang menindakan (wajib ada pada Allah)
  1. الْقِدَمُ = Tidak bermulaan
  2. الْبَقَاءُ = Tidak berkesusahan
  3. مُخَا لَفَتُهُ لِلْحَوَادِ ثِ = Tidak sama dengan makluk-Nya
  4. قِيَا مُهُ بِنَفْسِهِ = Tidak membutuhkan makluk-Nya
  5. الْوَحْدَانِيَةُ = Tidak terbilang (satu yang tunggal)
  1. Sifat Ma’ani, yaitu yang mengenai maknanya (Mustahil pada Allah SWT)
  1. الْحَادِثُ = Bepermulaan
  2. الْفَنَاءُ = Berkesudahan
  3. الْمُشَا بَهُةُ لِلْحَوَادِ ثِ = Sama dengan makluknya
  4. الاْحِتِيَا جُ لِلْحَوَادِ ثِ = Membutuhkan makhluknya
  5. الْتَعَدُّ دُ = Berbilang (lebih dari satu)
  1. Sifat Ma’nawiyah, yaitu yang mengenai pengertiannya
  1. كَوْ نُهُ قَا دِ رًا = Maha Mampu/Kuasa
  2. مُرِيْدًا = Maha Menginginkan
  3. عَلِيْمًا = Maha Tahu/Berilmu
  4. حَيًّا = Maha Hidup
  5. سَمِيْعًا = Maha Mendengar
  6. بَصِيْرًا = Maha Melihat
  7. مُتَكَلِمًا = Maha Berbicara
  1. SIFAT YANG JAIZ BAGI ALLAH SWT
  1. اِيْجَا دُالْشَّىْ ءِ اَوْاِعْدَا مُهُ = Mengadakan atau Menindakan Sesuatu
  1. Sifat Wujudiyah: Bukti ada Allah SWT.
Dalil Naqli:
  .
Terjemahan :
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin”. (Q.S. Ad-Dzaariyat: 20)

b. Sifat Salbiyah
  1. Allah Tidak Berpermulaan
Kata “Allah” berasal dari kata: Illahun dengan menambahkan kata aliflam pada permulaanya, agar terbentuknya jadi makrifat atau dikenal. Aliflam itu bagaikan kata THE dalam bahasa Inggris. Dengan adanya kata THE di depan, maka kata yang dimasukinya jadi dikenal. Setelah aliflamnya masuk, maka kata itu jadi: Al-Illahu untuk memudahkan membacanya, maka huruf (i)-nya dibuang, sehingga jadi Allaahu dan dibaca pada waktu berhenti atau waqab “Allah”.
Kata “Allah” tidak boleh digunakan kepada selain DIA, kecuali ditambah dengan kata lain di depanya. Umpamanya: Abdullah. Kata “Allah” mempunyai pengertian: Alma’buudu bihaqqin = yang berhak disembah atau beribadat kepada-Nya.




Dalil Naqli mengenai Allah tidak berpermulaan dan tidak berkesusahan.

Terjemahnya:
“Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”. (Q.S. Al-Hadiid: 3)

  1. Allah Tidak Berkesusahan
Dalil Naqli:
Terjemahnya:
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”.
(Q.S. Ar-Rahman: 26-27)
3. Allah Tidak Sama Dengan Makluknya
Dalil Naqli:
لَيْسَ كَمِثَلِه شَىْءٌ وَّهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ.
Terjemahanya:
“Tidak ada yang seumpamanya suatupun dan DIA (Allah) Maha Mendengar dan Maha Melihat”
4. Allah Tidak Membutuhkan Makluk (Allah Berdiri Sendiri)
Allah tidak membutuhkan TEMPAT-NYA berada. Bila DIA harus bertempat, maka manakah alam yang dapat ditempatinya. Sedemikian besar-Nya, malahan diucapkan dalam permulaan shalat umat islam. Allahu Akbar = Allah Maha Besar
5. Allah Tidak Berbilang (Allah Esa/Tunggal)
Kata “Alwahdaniyah” berasal dari “Alwaahid” yang berarti SATU.
Dalil Naqli:

Terjemahnya :
1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
(Q.S. Al-Iklas : 1 - 4)
c. Sifat Ma’nawiyah
  1. Allah Maha Ampun/Kuasa
Kata “Qudrat” bisa diterjemahkan dengan “Kuasa” atau “mampu”.
Dalil Naqli:

Terjemahnya :
“Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
(Q.S. Al-Imran: 165)
  1. Allah Maha Menginginkan
Dalil Naqli:

Terjemahnya :
" Sesungguhnya Perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, Maka jadilah ia". ( An-Nahl: 40)

  1. Allah Maha Berilmu
Kata “Ilmu” berasal dari bahasa Arab: ‘alima—ya’alamu—‘ilmu. Diucapkan “Ilmu”, yaitu : ma’rifatus syai-i bihaqiiqatihii = Mengetahui sesuatu sampai akhir hakikanya.
Dalil Naqli:
Terjemahnya:
“Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”. (Q.S. Ath-Thalaq: 12)
  1. Allah Maha Hidup
  2. Allah Maha Mendengar
Dalam bahasa Indonesia “mendengar” ialah : menangkap perkataan orang dan dapat menangkap suara (bunyi) dengan telinga.
Dalil Naqli:
اِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ.
Terjemahnya:
“Sesungguhnya Allah, DIA-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat”(Q.S. Al- Mukmin: 12)

  1. Allah Maha Melihat
Kata “bashara bissyi-i mempunyai pengertian: mengetahui dan Nazhara ilahi = absharahauu wa ta = ammalahu = melihat dengan mengamat-amati.
Dalam bahasa Indonesia ia berarti: menggunakan mata untuk mengetahui.
Dalil Naqli:

Terjemahnya:
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(Q.S. An-Nisaa’: 58)

  1. Allah Maha Berbicara
Menurut pengertian bahasanya ialah: Al-Ashwaatul mufidah = suara-suara yang mempunyai pengertian.
Menurut istilah Para Ahli Kalama tau Ahli Tauhid ialah: Alma’nal qaa-lmu binafsil ladzii yu’abbaru’anhubi alfaazhin = pengertian yang terdapat pada jiwa/diri yang diungkapkan dengan lafal-lafal.
Menurut istilah orang Nahu ialah: Aljumlatul murak kabatul mffidatu/berfaedah.
Dalil Naqli :

Terjemahan:
“Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”.(Q.S. An-Nisaa’: 163)
  1. Sifat Yang Jaiz bagi Allah SWT
Yang jaiz bagi Allah SWT hanyalah satu, yaitu:
Mengadakan sesuatu atau menidakkannya. Adapun mengadakan yang ada dan menidakan yang mustahil, mak itu tidak ta’alluqnya iradah dan Qudrat-Nya.
Dalil Naqli:
يَحْحُوْاللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ.
Terjemahnya :
“Allah menghapus apa yang DIA sukai dan menetapkannya.” (Q.S. Ibrahim: 39)


1 Hr. Muslim


Manajemen


  1. Latar Belakang
Manajemen ilmiah merupakan hasil pemikiran yang lebih maju yang di kembangkan oleh para tokoh-tokoh manajemen terkemuka. Manajemen klasik yang semula sudah kurang dapat di terapkan pada zaman sekarang ini, oleh karenanya dengan adanya manajemen modern saat ini sungguh sangat membantu aktivitas lebih efektif dan efisien. Walaupun sebenarnya tidak mutlak bahwa pemikiran manajemen ilmiah adalah benar seratus persen tanpa adanya kekurangan. Dalam manajemen ilmiah juga dapat di temukan kelemahan-kelemahan dan keterbatasan pemikiran akan tetapi itu tidak mengurangi bahwa pemikiran manajemen ilmiah itu sangat penting untuk kemajuan zaman saat ini.


  1. Rumusan Masalah
Beberapa rumusan masalah dalam sub bab bahasan mengenai pemikiran manjemen ilmiah ialah:
  • Bagaimana pokok pemikiran manajemen ilmiah
  • Siapa saja tokoh-tokoh pemikir manejemen ilmiah
  • Bagaiman pandangan prilaku organisasi
  • Bagaimana pandangan pendekatan sistem
  • Seperti apa pendekatan kontingensi
  • Bagaimanakah manajemen administratif itu

  1. Tujuan penulisan
Adapun beberapa tujuan penulisan makalah ini antara lain:
  • Agar dapat mengetahui pokok pemikiran manajemen ilmiah
  • Mengetahui tokoh-tokoh manajemen ilmiah
  • Mengetahui seperti apa pandangan prilaku suatu organisasi
  • Mengetahui pendekatan sistem suatu manajemen
  • Mengetahui seperti apa pendekatan kontingensi
  • Mengetahui seperti apa manajemen administratif

  1. Metode Kepenulisan
Adapun metode yang di gunakan ialah metode kepustakaan yakni dengan mengumpulkan bahan-bahan yang relevan dengan judul makalah dan media internet.

Untuk lebih lengkapnya kawan-kawan bisa DOWNLOAD diSini

Cinta

Cinta merupaka suatu perasaan yang dialami oleh makhluk Tuhan dimuka Bumi.
Tuhan memberikan cinta di hati pada hamba-Nya, sebagai salah satu bukti Tuhan
yang Maha Penyayang. Cinta merupakan suatu perasaan yang dimiliki oleh setiap
individu dan merupakan salah satu bentuk emosi dan perasaan. Sehingga apa yang
ia rasakan belum tentu sama dengan perasaan yang dialami oleh orang lain.
Sehingga kasih Tuhan yang diberikan kepada makhluknya dapat berbagai macam
bisa berbentuk fisik maupun berbentuk emasional. Akan tetapi yang penulis bahas
lebih kepada yang emosional. Sesuatu yang ada didalam diri kita. Yaitu
mengembangkan potensi cinta.
Untuk lebih lengkapnya kawan-kawan bisa DOWNLOAD diSini