Showing posts with label karangan. Show all posts
Showing posts with label karangan. Show all posts

Tuesday, 26 June 2012

KATA PENGANTAR


Contoh Kata Pengantar

Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT Yang telah memberikan rahmat dan ridho – Nya pada kita semua sehingga kita dapat teris berupaya mengembangkan kualitas diri dan bersemangat dalam ibadah kepada – Nya. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, Pada keluarganya, sahabatnya hingga akhir jaman.
Berangkat dari sebuah bentuk kewajiban untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah ......................, penyusun akhirnya telah berhasil untuk menyusun makalah yang khusus membahas tentang ................. Penyusunan makalah ini semata – mata tidak hanya ditujukan untuk pemenuhan tugas akademik saja, tetapi juga secara khusus ditujukan agar penyusun memahami secara pasti karakteristik dan tuntutan dari sebuah ............... yang ada dan bagaimanakah ................. tersebut dilihat dalam konteks ...................
Terimakasih penyusun ucapkan kepada segenap pihak yang telah berkontribusi dalam penyususnan makalah ini dan semoga makalah ini dapat memberi berbagai manfaat bagi kita semua terutama dalam mengenali ilmu ............., yang hingga sekarang selalu memunculkan keunikan tersendiri yang menuntut untuk dikaji oleh kita semua. Kiranya sekian dari penyusun. Wassalamualaikum Wr. Wb


   
Banjarmasin,   27 Juni  2012
  Penyusun


(..............)


Dan untuk memulai pencarian anda tentang ini silahkan cari di SINI

Teori Penciptaan


Teori Evaluasi Dan Rekayasa Reproduksi Ilmu Pengetahuan Barat dan Islam
  1. Teori Evolusi Sebagai Suatu Konsep
  1. Teori Evolusi
Semua ini dijawab pertanyaannya menjadi evolusi ?
  1. Teori Hamarck (1744-1829)
Menurutnya evolusi terjadi karena adaptasi, sedangkan adaptasi timbul karena diinginkan, yaitu perubahan struktur/bentuk yang terjadi karena adanya keinginan yang timbul dari dalam untuk menghadapi perubahan lingkungan. Menurutnya, tingkat perkembangan suatu organ sebanding dengan penggunaannya dan apa yang diperoleh/diubah pada individu dalam masa hidupnya ada kekal, dan bila mana terdapat dalam dua jenis kelamin, sifat itu akan diturunkan.
  1. Teori Darwin
Darwinlah yang membuka misteri ini, menurutnya organisme menjadi suatu lingkungannya dalam proses evoluasi dan proses ini dikendalikan oleh seleksi alam.
  1. Spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup pada masa lampau.
  2. Evolusi terjadi melalui seleksi alam.
  1. Teori Darwin – Wiesmann
Pada masa zaman Darwin belum diketahui Kromosom dan Gen sebagai asal dari sifat keturunan. Wiesmann melengkapi teori Darwin dengan pernyataan sebagai berikut :
  1. Evolusi merupakan masalah genetik yaitu menyangkut masalah bagaimana diwariskan gen-gen melalui sel-sel kelamin.
  2. Sel-sel tubuh tidak dipengaruhi oleh lingkungan.
Jadi, evolusi adalah gejala seleksi alam.
  1. Teori De Vries
Ia seorang Batarikus Belanda, evolusi disebabkan oleh adanya mutasi gen. Mutasi adalah perubahan sempurna.
Sejak itu Darwin dianggap sebagai perintis evolusi. Namun sampai kini tesis itu terus diserang oleh kalangan akademisi maupun agama, termasuk para cendekiawan muslim. Tetapi sebenarnya gagasan evolusi pertama kali bukan diperkenalkan oleh Darwin, tetapi kita bisa menyelusurinya kembali sampai ke Yunani Kuno. Theles (636-546 SM) dan Anaximedes (611-547 SM), biasa membincangkan asal-usul biota laut dari evolusi kehidupan. Phytagoras (570-496 SM), Xentrus (kira-kira 500 SM) dan Empedocles juga membicarakan isu yang sama dalam tulisan-tulisan mereka.
Evolusi didefinisikan oleh Janusch (1973) sebagai keturunan melalui modifikasi. Lascar (1976) merumuskan evolusi sebagai perubahan-perubahan dalam pengayaan sifat keturunan dan modifikasi yang berkelanjutan melalui tahapan waktu. Evolusi ini sering dilihat dari perubahan dalam bentuk frekuensi gen antara populasi leluhur dan populasi keturunannya, meskipun mustahil bagi kita untuk secara langsung mengukur perubahan-perubahan kontitutif antara kedua hal ini. Dalam hubungan ini analisis tingkat persamaan dan perbedaan makluk hidup, khususnya dalam dunia binatang-binatang merupakan dasar dari kajian evolusi. Salah satu hasil kajian itu adalah keanekagaraman jenis binatang yang masih hidup maupun yang sudah mati. Maka dilihat dari segi diatas evolusi bisa dikatagorikan sebagai perubahan-perubahan dalam jumlah dan jenis garis turunan utama.
Sebelum diketahui dan perlu kita ketahui bahwa sampai sekarang ada 2 mazhab ahli tafsir :
  1. Mazhab Tekstual yang menafsirkan semua ayat sesuai dengan arti verbal ayat-ayat itu demi kata. Bagi mazhab ini, menafsirkan cenderung sudah final.
  2. Mazhab Kontekstual yang menafsirkan ayat-ayat bukan hanya terbatas dengan arti verbal ayat-ayat tetapi juga merujuk pada relavansi teks itu dengan kemajuan iptek. Iptek juga adalah sunnah Allah yang harus dirujuk sesuai dengan ayat yang bersangkutan dan ini membuat penafsiran menjadi dinamis.
Ini tidak berarti ayat-ayat itu harus disesuaikan dengan kemajuan zaman iptek tetapi penafsiran kembali diperlukan jika ada fakta-fakta yang baru muncul dapat mengerti bahwa mazhab tekstual cenderung jadi statis dan taklid dan ada apa yang ditafsirkan oleh para ahli tafsir abad pertama dan kedua hijriah sesudah wafatnya Rasullah. Dan dapat dimaklumi mazhab ini dalam batas tertentu mengandung kontraversi dikalangan ahli tafsir. Mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsirnya diikuti bagaimana pandangan teori evolusi tentang isu yang ada dalam teks Al-Qur’an.

  1. Perkembangan Dan Masalah
  1. Perkembangannya
Perkembangan seksual adalah pembentuk individu baru dari satu induk tampa melalui hubungan antara sel kelamin yang termasuk perkembangannya adalah :
  1. Pembelahan kembar.
  2. Kuncup.
  3. Pembentukan spora.
  4. Perkembangan vegetative (salah satu organ yang berfungsi untuk reproduksi)
Dalam hal ini kita harus membuat klasifikasinya untuk memberi nama setiap spesies, baik hewan maupun tumbuhan dengan dua kata yang sebagai pertama yaitu genus dan kedua sebagai spesies.
Tetapi lain dengan halnya otak manusia, sekarang manusia mempunyai volume otak 1.200-1.500 cc. sedangkan simpanse hanya 350-450 cc. Tidak ada hubungan mutlak manusia dengan hewan, tetapi hanya terdapat sedikit perbedaan dalam susunan hemoglobin antara dua jenis piramida tersebut dengan manusia. Manusia tersusun dengan dua unsur yakni: tubuh kasar dan roh halus, sehingga manusia dapat bergerak dan merasakan segala sesuatu.
Menurut Dr. M. Utsman Najati kata roh dalam Al-Qur’an mempunyai berbagai arti yang menguraikan penciptaan Adam a.s. adalah roh ciptaan Allah yang membuat manusia siap mempunyai sifat yang luhur yang mengikuti kebenaran. Dengan demikian, terjawablah pertanyaan tentang bagaimana manusia berkembang sehingga memiliki dan keagungan rohani yang membedakan dengan makluk lain.
  1. Masalahnya
  1. Para menganut teori evolusi tidak bisa mengukur perubahan-perubahan kuantitatif gen dan satu-satunya jalan untuk mengetahui perubahan-perubahan itu adalah dengan analisis persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan ciri-ciri fisik baik pada makluk hidup maupun pada binatang yang sudah mati.
  2. Bagaimana dengan jumlah gen-gen yang terbatas dari makluk bersel satu bisa diperkaya melalui miliaran tahun hingga menjadi manusia yang memiliki lagen ?
  3. Bagaimana mutasi terjadi sedemikian rupa sehingga sebuah spesies menjadi musnah dan lainnya tetap hidup ?
Maka disitulah para penganut teori evolusi tidak mempunyai jawaban, tetapi jawaban sebenarnya ada pada kekuatan Tuhan, maka dengan hal ini evolusi itu bukanlah suatu yang kebetulan melainkan evolusi yang terjadi dalam tahapan dan waktu hanya bisa terjadi kalau ada iradah/perintah dari Tuhan.
Kesimpulan
Mengamati alam semesta merupakan kawasan para ilmuan sebagai mana diperintahkan dalam Al-Qur’an antara lain dalam surat yunus (10 ) : 5
“ Allah tidak meciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesarannya) kepada orang-orang yang mengetahuinya” ( Q.S. 10 : 5 )
Teori ovulasi sebenarnya adalah suatu konsep sekuler mengenai secara kebetulan/secara popular. Dari berbagai pendapat berbagai semua prosesnya merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Esa dimana evolusi hanya mungkin terjadi jika ada iradah/perintah Allah maka dari ini sajalah dengan Al-Qur’an.








DAFTAR PUSTAKA
Camas, J, 1957. Manual Of Physical Antropology. Charles C. Thomas, Spring Field.

Darwin. C. 1859. The Origin Of Species By Means Of Natural Selection. John Murray. London.

Departement Agama R.I. 1973. Al-Qur’an dan terjemahnya. Penerbit Jamunu. Jakarta.

Dabzhansky. T. 1970. Genetics Of Evolutionary Process. Columbia Univescity Press.





Iman



  1. RUKUN IMAN
  1. Apa yang dinamakan Beriman kepada Allah SWT ?
Yang dinamakan “Beriman kepada Allah” ialah: mempunyai suatu akidah yang pasti, bahwa Allah ialah Rabbu tiada suatu, DIA yang memilikinya, dan hanya DIA menciptakannya sendirian.
Yang dinamakan “Beriman kepada Allah SWT” mempunyai akidah pasti, “ Sesungguhnya Allah:
  1. Rabbu tiap sesuatu.
  2. Pemiliknya.
  3. Yang berhak disembah.
  4. Penciptanya, seorang-Nya.
  5. Yang patut merendahkan diri kepada-Nya.
  6. Yang merendukkan dirinya kepada-Nya.
  7. Yang menerima semua macam perhambaan.
  8. Bersifat dengan semua sifat keagunan.
  9. Bersifat dengan semua sifat kesempurnaan.
  10. Bersih atau terhindar dari semua yang buruk.
  11. Bersih atau terhindar dari semua yang kurang.
Kata “Arrabbu” berarti:
  1. Nama Allah SWT. Tidak boleh menggunakan kata itu untuk nama, kecuali dengan menambahnya dengan kata lain.
  2. Almaaliku = Yang mempunyai.
  3. Assayidu = Tuhan
  4. Almurabbi = Pendidik.
  5. Alqaayimu = Yang meluruskan.
  6. Amun’imu = Yang memberi nikmat.
  7. Amudabiru = Yang mengatur.
  8. Amuslihu = Yang membaikkan
  1. Apakah dalil naqli mengenai rukun iman ?
اَخْبِرْ نِى عَنِ الاِْ يمَْانِ! قَالَ اَنْ تُؤْ مِنَ بِاللهِ وَمَلآ ئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرَسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلاخِرِ وَتُؤْ مِنَ بِاللهِ خَيْرِهِ وَشَّرِهِ. قَالَ : صَدَقْتَ.
Terjenahnya:
“Jibril mengatakan kepada Nabi Muhammad, “Sebutkanlah kepadaku mengenai IMAN!” Jawab Beliau, “Hendaklah kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada kadar baik dan kadar buruknya,” Jawab Jibril, “ Jawabanmu itu benar.” 1
Iman terdapat dalam hati. Oleh sebab itu, seorang mukmin bukan saja bersyahadatain dan mengamalkan semua rukun islam, tapi hatinya ikut melaksanakannya. Dengan demikian, maka tingkat Mukmin lebih tinggi dari Muslim. Semua peraturan Ilmu dalam Al-Qur’an pada umumnya diturunkan atas Mukmin bukan Muslim.
  1. Sifat yang wajib bagi Allah SWT.
1. Sifat wajib bagi Allah terbagi 4 bagian, yaitu:
  1. Sifat wujudiah, yaitu yang membahas wujud atas ada Allah SWT. Sifat wujudiah ini hanya ada 1, yaitu:
  1. الْوُجُوْدُ = Ada
  1. Sifat Salbiyah, yaitu yang menindakan (wajib ada pada Allah)
  1. الْقِدَمُ = Tidak bermulaan
  2. الْبَقَاءُ = Tidak berkesusahan
  3. مُخَا لَفَتُهُ لِلْحَوَادِ ثِ = Tidak sama dengan makluk-Nya
  4. قِيَا مُهُ بِنَفْسِهِ = Tidak membutuhkan makluk-Nya
  5. الْوَحْدَانِيَةُ = Tidak terbilang (satu yang tunggal)
  1. Sifat Ma’ani, yaitu yang mengenai maknanya (Mustahil pada Allah SWT)
  1. الْحَادِثُ = Bepermulaan
  2. الْفَنَاءُ = Berkesudahan
  3. الْمُشَا بَهُةُ لِلْحَوَادِ ثِ = Sama dengan makluknya
  4. الاْحِتِيَا جُ لِلْحَوَادِ ثِ = Membutuhkan makhluknya
  5. الْتَعَدُّ دُ = Berbilang (lebih dari satu)
  1. Sifat Ma’nawiyah, yaitu yang mengenai pengertiannya
  1. كَوْ نُهُ قَا دِ رًا = Maha Mampu/Kuasa
  2. مُرِيْدًا = Maha Menginginkan
  3. عَلِيْمًا = Maha Tahu/Berilmu
  4. حَيًّا = Maha Hidup
  5. سَمِيْعًا = Maha Mendengar
  6. بَصِيْرًا = Maha Melihat
  7. مُتَكَلِمًا = Maha Berbicara
  1. SIFAT YANG JAIZ BAGI ALLAH SWT
  1. اِيْجَا دُالْشَّىْ ءِ اَوْاِعْدَا مُهُ = Mengadakan atau Menindakan Sesuatu
  1. Sifat Wujudiyah: Bukti ada Allah SWT.
Dalil Naqli:
  .
Terjemahan :
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin”. (Q.S. Ad-Dzaariyat: 20)

b. Sifat Salbiyah
  1. Allah Tidak Berpermulaan
Kata “Allah” berasal dari kata: Illahun dengan menambahkan kata aliflam pada permulaanya, agar terbentuknya jadi makrifat atau dikenal. Aliflam itu bagaikan kata THE dalam bahasa Inggris. Dengan adanya kata THE di depan, maka kata yang dimasukinya jadi dikenal. Setelah aliflamnya masuk, maka kata itu jadi: Al-Illahu untuk memudahkan membacanya, maka huruf (i)-nya dibuang, sehingga jadi Allaahu dan dibaca pada waktu berhenti atau waqab “Allah”.
Kata “Allah” tidak boleh digunakan kepada selain DIA, kecuali ditambah dengan kata lain di depanya. Umpamanya: Abdullah. Kata “Allah” mempunyai pengertian: Alma’buudu bihaqqin = yang berhak disembah atau beribadat kepada-Nya.




Dalil Naqli mengenai Allah tidak berpermulaan dan tidak berkesusahan.

Terjemahnya:
“Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”. (Q.S. Al-Hadiid: 3)

  1. Allah Tidak Berkesusahan
Dalil Naqli:
Terjemahnya:
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”.
(Q.S. Ar-Rahman: 26-27)
3. Allah Tidak Sama Dengan Makluknya
Dalil Naqli:
لَيْسَ كَمِثَلِه شَىْءٌ وَّهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ.
Terjemahanya:
“Tidak ada yang seumpamanya suatupun dan DIA (Allah) Maha Mendengar dan Maha Melihat”
4. Allah Tidak Membutuhkan Makluk (Allah Berdiri Sendiri)
Allah tidak membutuhkan TEMPAT-NYA berada. Bila DIA harus bertempat, maka manakah alam yang dapat ditempatinya. Sedemikian besar-Nya, malahan diucapkan dalam permulaan shalat umat islam. Allahu Akbar = Allah Maha Besar
5. Allah Tidak Berbilang (Allah Esa/Tunggal)
Kata “Alwahdaniyah” berasal dari “Alwaahid” yang berarti SATU.
Dalil Naqli:

Terjemahnya :
1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
(Q.S. Al-Iklas : 1 - 4)
c. Sifat Ma’nawiyah
  1. Allah Maha Ampun/Kuasa
Kata “Qudrat” bisa diterjemahkan dengan “Kuasa” atau “mampu”.
Dalil Naqli:

Terjemahnya :
“Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
(Q.S. Al-Imran: 165)
  1. Allah Maha Menginginkan
Dalil Naqli:

Terjemahnya :
" Sesungguhnya Perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, Maka jadilah ia". ( An-Nahl: 40)

  1. Allah Maha Berilmu
Kata “Ilmu” berasal dari bahasa Arab: ‘alima—ya’alamu—‘ilmu. Diucapkan “Ilmu”, yaitu : ma’rifatus syai-i bihaqiiqatihii = Mengetahui sesuatu sampai akhir hakikanya.
Dalil Naqli:
Terjemahnya:
“Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”. (Q.S. Ath-Thalaq: 12)
  1. Allah Maha Hidup
  2. Allah Maha Mendengar
Dalam bahasa Indonesia “mendengar” ialah : menangkap perkataan orang dan dapat menangkap suara (bunyi) dengan telinga.
Dalil Naqli:
اِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ.
Terjemahnya:
“Sesungguhnya Allah, DIA-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat”(Q.S. Al- Mukmin: 12)

  1. Allah Maha Melihat
Kata “bashara bissyi-i mempunyai pengertian: mengetahui dan Nazhara ilahi = absharahauu wa ta = ammalahu = melihat dengan mengamat-amati.
Dalam bahasa Indonesia ia berarti: menggunakan mata untuk mengetahui.
Dalil Naqli:

Terjemahnya:
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(Q.S. An-Nisaa’: 58)

  1. Allah Maha Berbicara
Menurut pengertian bahasanya ialah: Al-Ashwaatul mufidah = suara-suara yang mempunyai pengertian.
Menurut istilah Para Ahli Kalama tau Ahli Tauhid ialah: Alma’nal qaa-lmu binafsil ladzii yu’abbaru’anhubi alfaazhin = pengertian yang terdapat pada jiwa/diri yang diungkapkan dengan lafal-lafal.
Menurut istilah orang Nahu ialah: Aljumlatul murak kabatul mffidatu/berfaedah.
Dalil Naqli :

Terjemahan:
“Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”.(Q.S. An-Nisaa’: 163)
  1. Sifat Yang Jaiz bagi Allah SWT
Yang jaiz bagi Allah SWT hanyalah satu, yaitu:
Mengadakan sesuatu atau menidakkannya. Adapun mengadakan yang ada dan menidakan yang mustahil, mak itu tidak ta’alluqnya iradah dan Qudrat-Nya.
Dalil Naqli:
يَحْحُوْاللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ.
Terjemahnya :
“Allah menghapus apa yang DIA sukai dan menetapkannya.” (Q.S. Ibrahim: 39)


1 Hr. Muslim


TEMA KARANGAN


  1. Pengertian Tema
Menurut arti katanya tema berarti “sesuatu yang telah diuaraikan”, atau “sesuatu yang telah ditempatkan”. Kata ini beerasal dari kata Yunani tithenia yang berarti ‘menempatkan’ atau ‘meletakkan’. Dalam kehidupan sehari-hari tema sering dikacaukan pula pemakaiannya denagn istilah topic. Kata topic juga berasal dari kata Yunani topoi yang berarti tempat. Aristoteles, yang dianggap salah satu seorang tokoh retorika jaman klasik, menegaskan bahwa untuki membuktikan sesuatu mula-mula harus ditentukan topoi ‘tempat’ berlangsungnya peristiwa. Dalam batas-batas yang ditentukan tadi, penulis harus menemukan: manusia, interaksi dan fakta-fakta lainnya dan menimbulkan atau bersangkutan dari peristiwa tadi. Sebaliknya dalam retorika modern, setiap pengarang yang ingin menyampaikan sesuatu, mula-mula harus mencari topic yang dapat dijadikan landasan untuk menyampaikan maksudnya mengenai topic tadi.
Pengetian tema, secara khusus dalam karang-mengarang, dapat dilihat dari dua sudut, yaitu dari sudut karangan yang telah selesai, dan dari sudut proses penyusunan sebuah karangan.
Dilihat dari sudut sebuah karangan yang telah selesai, tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Amanat utama ini dapat diketahui misalnya bila seorang membaca sebuah roman, atau karangan lainnya. Dalam kenyataan untuk menulis suatu karangan, penulis harus memilih suatu topic atau pokok pembicaraan. Diatas pokok pembicaraan itulah ia menempatkan suatu tujuan untuk disampaikan dengan landasan topic tadi. Dengan demikian pada waktu menyusun sebuah tema atau pada waktu menentukan sebuah tema untuk sebuah karangan ada dua unsur yang paling dasar perlu diketahui yaitu topic dan pokok pembicaraan dan tujuan yang ingin dicapai melalui topic tadi. Berdasarkan kenyataan ini, pengertian tema dapat dibatasi sebagai : suatu perumusan dari topic yang akan dijadikan landasan pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai melalui topic tadi.
Tema itu dapat pula menga,bil bentuk yang lebih luas berupa sebuah alinea, atau berupa rangkaian dari alinea-alinea. Bentuk yang terakhir ini biasa disamakan dengan ikhtisar, dan kadang-kadang deangan ringkasan. Antara ringkasan dan tema sebenarnya terdapat perbedaan besar, karena dalam sebuah ringkasan masih disebutkan para pelaku dengan alur kisahnya (plot) dan sebagainya. Sedangkan tema hanya merupakan gagasan-gagasan atau amanat yang ingin disampaikan pada pembaca, belum dijalin dengan para pelaku. Tempat sebagai ruang berlangsungnya peristiwa atau aktifitas dan interaksi antara para tokohnya. Ringkasan merupakan uraian itu secara komplit dalam bentuk yang singkat, sedangkan tema merupakan sari dasar atau amanat yang akan disampaikan penulis.
Panjang tema tergantung dari berapa banyak hal yang akan dsampaikan sebagai perincian dari tujuan utama, dankemampuan penulis utntuk memperinci dan mengemukakan iluistrasi-ilustrasi yang jelas dan terarah. Perbandinagn antara tema dengan karangan dapat disamakan dengan hubungan antara sebuah kalimat dan gagasan utama kalimat yang terdiri dari subyek dan predikat. Semua bagian kalimat lainnya hanya berfungsi untuk memperjelas gagasan-gagasan utama tadi. Begitu pula, kedudukan tema secara lebih konkrit dapat kita lihat dalam hubungan antara kalimat topic dan alinea. Kalimat topic merupakan tema dari alinea itu. Sedangkan kalimat-kalimat lainnya hanya berfungsi untuk memperjelas kalimat topic atau tema alinea itu.
  1. Memilih Topik
Apa saja yang menarik perhatian kita dapat saja dijadikan topic dalam karangan kita: pegalaman-pengalaman dimasa lampau, pengalaman masa kini, keluarga, cita-cita, karier, alam sekitar, persoalan-persoalan kemasyarakatan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, mata pencaharian dan sebagainya.
Semua pokok permasalahan tersebut dapat dijadikan topic karangan mempergunakan salah satu bentuk tulisan, yaitu: narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi.
Narasai berusaha untuk mengisahkan suatu peristiwa atau kejadian secara kronologis. Beberapa pokok yang biasanya dipakai dalam narasi adalah: biografi, roman, novel, sejarah, dsb. Sebaliknya deskripsi berusaha untuk menggambarkan hal sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, misalnya: tentang Kota Jakarta, tentang gedung-gedung bersejarah, tentang senja dipelabuhan, dan sebagainya.
Bila kita berpindah dari reproduksi masa silam kepada tulisan-tulisan eksposisi (yang bertujuan untuk member penjelasan atau informasi), maka, tema tadi akan diuraikan dalam sebuah proses, misalnya: bagaimana membuat api.
Corak lain dari tulisan-tulisan ekspositoris itu adalah menerangkan tentang proses kerja sesuatu barang. Yang agak berlainan dari tipe-tipe tulisan ekspisotris sebagai disebut diatas adalah definisi yang luas untuk menjelaskan suatu istilah.
Jenis tulisan lain yang lebih sulit dari eksposisi adalah argumentasi. Argumentasi sebenarnya termasuk dalam eksposisi, hanya sifatnya yang jauh lebih sulit dengan mengajukan pembuktian. Dalam tipe ini termasuk analisa, baik yang menyangkut pemecahan suatu pokok persoalan atas bagian-bagiannya, maupun penggabungan masalah-masalah yang terpisah menjadi suatu klasifikasi yang lebih luas.
Sebuah topic pertama-tama harus menarik perhatian penulis sendiri. Penulis akan didorong terus menerus agar dapat menyelesaikan tulisan itu sebaik-baiknya. Sebaliknya topic yang sama sekali tidak disenangi malahan akan menimbulkan kesalan bila terdapat hambatan-hambatan penulis tidak akan berusaha sekuat tenaga akan menemukan fakta dan data untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Dalam penelitian dan tulisan ilmiah, topic yang digarap harus pula diketahui oleh penulis tersebut. Yang dimaksud dengan diketahui adalah bahwa sekurang-kurangnya prisnisp-prinsip ilmiahnya diketahui serba sedikit. Berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah yang diketahuinya, penulis akan berusaha menncari data-data melalui penelitian, observasi, wawancara dan sebagainya sehingga pengetahuannya mengenai masalah itu bertambah dalam.
Namun,bagi para mahasiswa kiranya perlu ditambahkan beberapa syarat lain, yaitu topic itu jangan terlalu baru, terlalu teknis dan terlalu controversial. Bagi para penulisan pertama-tama dilandaskan pada data-data yang dikumpulkan melelui penelitian kepustkaan.
  1. Pembatasan Topik
Setiap penulis harus benar-benar yakin bahea topic yang ditulisnya harus cukup sempit dan terbatas atau sangat khusus untuk digarap. Kecenderungan tiap penulis baru adalah mengungkapkan sesuatu terlalu umum, akibatnya uraian itu juga akan menjadi kabur dengan menggunakan istilah-istilah yang tidak tepat dan cermat.
Pembatasan topic sekurang-kurangnya akan membantu pengarang dalam beberapa hal. Pertama-tama pembatasan itu memungkinkan penulis untuk menulis dengan penuh keyakinan dan kepercayaan, karena pokok itu benar-benar diketahuinya.
Cara membatasi sebuah topic dapat dilakukan dengan mempergunakan cara berikut. Pertama-tama tetapkanlah topic yang ingin digarap dalam suatu keadaan sentral. Kedua, ajukanlah pertanyaan, apakah topic yang berada dalam kedudukan sentral itu masih dapat diperinci lebih lanjut? Bila dapat, tempatkanlah perinciannya itu disekitar lingkaran toipk pertama tadi. Ketiga, tetapkanlah yang mana dari perincian tadi yang akan dipilih. Keempat, ajukanlah pertanyaan apakah sektor tadi perlu diperinci lebih lanjut?.
Setiap persoalan yang akan diuraikan perlu dibatasi, perlu diprsempit ruang lingkupnya.pembatasan-pembatasan itu akan mengaharuskan penulis untuk memilih topic-topik yang paling khusus. Pembatasan juga menyebabkan penulis akan lebih mengkonsentrasikan pikirannya kepada topim tersebut, sehingga dapat menemukan lebih banyak diketahuinya. Dengan konsentarsi itu, penulis bisa menciptakan contoh-coontoh atau ilustrasi-ilustrasi yang khusus sekali, dan menemukan pula insiden-insiden yang khas. Selanjutnya pembatasan subjek itu memungkinkan penulis untuk memusatkan perhatiannya hanya kepada objeknnya, sehingga tidak melangkah terlalu jauh.
  1. Menentukan Maksud
Pengetahuan dasar tadi akan dikembangkan lebih lanjut dengan hasil-hasil penelitian, observasi dan sebagainya. Karena sudah mengenal prinsip-prinsip dasarnya, maka penulis akan lebih mudah mengetahui aspek-aspek mana yang perlu diketahui data-datanya, aspek mana yang tidak perlu dimasukkan dalam uraian. Pembatasan topic sampai pada tahap ini belum cukup, masih ada satu hal yang penting, yang perlu ditetapkan yaitu apa maksud pengarang dalam menguraikan topic tadi.
Pembatsan topic belum dengan sendirinya membatasi pula maksud pengarang atau penulis. Sebab itu penulis harus menetapkan pula maksud untuk menggarap topic tadi. Pembatasan maksud merupakan sebuah rancangan meyeluruh yang memungkinkan penulis bergerak bebas dalam batas-batas tadi. Seperti halnya dalam pembatasan topic, pembatasan maksud juga akkan menentukan bahan mana yang diperlukan, serta cara mana yang paling baik bagi penyusunan karangan itu.